Minggu, 12 Oktober 2008

Cara Mengolah Sampah



Pendahuluan

Sampah merupakan masalah yang sangat sulit ditanggulangi, terutama di negara-negara sedang berkembang. Meskipun sudah bisa ditanggulangi umumnya memerlukan biaya untuk pengolahan yang relatif besar, sehingga seringkali persoalan sampah ini hanya bisa diselesaikan secara sepotong-sepotong tanpa adanya penyelesaian yang mampu menuntaskan hingga ke akar permasalahan.

Sampah yang berasal dari rumah tangga terbagi dalam 3 kategori pada umumnya, menurut perkiraan 70 % berupa sampah organik (asalnya dari benda-benda hidup), 20 % sampah yang bernilai ekonomis bagi pemulung (kardus dan berbagai macam jenis plastik) dan 10 % yang harus dibuang. Sampah organik inilah pada umumnya menimbulkan masalah bau yang tak sedap, hal tersebut timbul akibat penguraian sampah oleh makhluk hidup.

Di Propinsi Jawa Tengah dan Bali, sampah organik sudah lama diperuntukkan sebagai pakan ternak. Peternak biasanya menggembala hewan peliharaannya, dibawa ke tempat pembuangan sampah. Namun tentu saja ini sangat menjijikkan, disamping nilai gizinya tidak terkontrol.

Sampah organik dapat dipergunakan sebagai pakan ternak domba, kambing, kerbau atau sapi melalui proses pengolahan yang diciptakan Dr. Nahrowi dosen Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Teknologi yang diciptakan berbasis fermentasi. Melalui fermentasi, akan diperoleh pakan ternak yang tidak saja aman, namun juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Dalam hal ini, sampah organik primer diolah menjadi silase ransum komplit atau campuran macam bahan bergizi. Bahan bergizi itu adalah pakan hijauan (sampah organik primer) dan pakan penguat (konsentrat) yang bahannya mengandung protein tinggi seperti bungkil dan dedak, atau limbah tahu dan kecap.

Bahan-bahan ini kemudian difermentasikan ke dalam kondisi anaerob (tidak memerlukan oksigen) selama 2 – 3 minggu. Melalui mekanisme ini sampah akan mempunyai kadar air 40 – 60 %. Mikroorganisme aerob hilang dan diganti oleh mikroorganisme anaerob penghasil asam laktat yang akan berguna untuk perkembangan hewan/ternak.

Pengolahan Sampah Sederhana

Untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak, tidak terlampau rumit. Peternak cukup menyediakan silo (wadah fermentasi) yang ukuran besar kecilnya disesuaikan jumlah ternak yang akan diberi pakan. Drum plastik atau plastik polybag pun dapat digunakan sebagai silo. Drum plastik akan sangat baik digunakan untuk wadah proses fermentasi sebab apabila bahan itu diolah terlalu banyak akan sia-sia. Bahan yang sudah disajikan untuk ternak tidak lagi dapat digunakan kembali.

Selain silo, peralatan lainnya yang digunakan pemotong (chopper), pencampur (mixer), alat angkut, sekop, dan plastik untuk alas penutup.

Cara pembuatannya, bahan baku yang akan digunakan dicampur sesuai dengan komposisi kandungan gizi yang diinginkan. Selanjutnya bahan campuran tersebut dimasukkan kedalam silo, dipadatkan dan ditutup. Setelah itu ditunggu hingga 2 - 3 minggu kemudian. Bahan sebaiknya dipilih berdasarkan kandungan nutrisi seperti sumber protein, energi, vitamin dan mineral serta serat. Bahan juga hendaknya dipertahankan kandungan airnya. Sedapat mungkin seperti kondisi asal, sekitar 40 – 60 %.

Yang perlu diperhatikan pula, bentuk fisik bahan pakan tersebut, apakah butiran, tepung/serbuk atau mungkin batangan. Terutama untuk bahan yang berbentuk batangan, sebelum dicampur harus dipotong-potong terlebih dahulu dengan ukuran sekitar 3 - 5 cm, sehingga akan memudahkan proses pencampuran dengan bahan lainnya. Untuk mengetahui kadar nutrisi yang tinggi dapat dilakukan dengan cara manual dan komputerisasi. Persyaratan utama adalah diketahuinya kandungan/komposisi kimia dan nutrisi dari bahan-bahan yang akan digunakan. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan analisis laboratorium atau melihat daftar kandungan, komposisi kimia dan nutrisi yang sudah ada hasil penelitian.

Membuat Silase

Tahap berikutnya adalah proses pencampuran. Untuk pembuatan silase dalam skala besar, pencampuran hendaknya dilakukan dengan menggunakan mixer atau mesin pencampur, supaya campuran merata. Namun apabila jumlah tenaga kerja cukup banyak, pencampuran bahan silase dalam skala besar dapat dilakukan secara massal. Pencampuran bahan dalam skla kecil, dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan sekop. Tempat atau wadah yang digunakan sebaiknya didalam ruangan dan berbentuk flat/datar, berbebtuk kolam/bak dengan alas keras atau tembok. Proses pencampuran harus dilakukan secara merata, untuk menghasilkan silase yang berkualitas baik.

Setelah dicampur, material silase ransum komplit dengan kandungan air 4 - 60 persen, dimasukkan ke dalam silo untuk disimpan selama kurang lebih 2 - 3 minggu, dalam keadaan tertutup rapat. Bahan-bahan yang dimasukkan kedalam silo harus dalam kondisi padat dan tertutup dengan rapat untuk selanjutnya disimpan. Selama penyimpanan tersebut akan terjadi proses fermentasi, dalam kondisi anaerob. Silase akan terbentuk sempurna pada minggu ke 2 - 3 tergantung pada bahan dan volume yang digunakan. Untuk skala kecil, penggunaan kantong plastik atau drum plastik sangat disarankan, namun untuk skala yang lebih besar sebaiknya digunakan bunker silo.

Pada hari ke-21 (dua puluh satu) atau sekitar minggu ketiga, silase ransum komplit siap untuk diberikan kepada ternak. Pada saat dibuka, disarankan produk/silase tidak diberikan langsung ke ternak. Produk fermentasi mengandung sejumlah gas yang dihasilkan selama proses fermentasi berlangsung. Kondisi ini dapat menekan konsumsi dan berbahya bagi ternak. Oleh karena itu, sebelum diberikan pada ternak, silase perlu diangin-anginkan terlebih dahulu, untuk menghilangkan aromanya yang menyengat, dan juga perlu dilakukan uji terhadap logam-logam berat yang mungkin mencemarinya.

Ciri-ciri yang baik dari produk silase dapat diidentifikasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, cirri-ciri produk silase yang baik adalah beraroma asam laktat, berwarna segar seperti warna aslinya, tidak menggumpal dan tidak berjamur. Sedangkan secara kuantitatif, adalah berada pada pH 3,8 – 4,2, kandungan asam laktat yang cukup banyak, disukai ternak/palatabilitas tinggi.

Penelitian IPB

Hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB terhadap kandungan nutrisi dari silase ransum komplit dengan bahan baku limbah sayuran dan limbah restoran, memberikan bukti yang positif tentang kandungan nutrisi dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi tersebut dapat diidentifikasi dan diuraikan sebagai silase ransum komplit dengan bahan baku diatas memiliki pH cukup rendah (3,82 – 4,26) dan berada pada kondisi asam. Ini menunjukkan bahwa silase tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Hal ini dipertimbangkan karena pada kisaran pH 3,5 – 4,0 adalah kunci untuk mencegah mikroorganisme penyebab kebusukan dan atau mikroorganisme patogen.

Mengingat silase ransum komplit dibuat sesuai kebutuhan nutrisi ternak, maka kandungan gizi dan nutrisinya dapat dijamin sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut.

Konsentrasi NH3 yang dihasilkan sangat optimum bagi pertumbuhan mikroba, yaitu sekitar 9,42 – 14,11 m M. Hal ini berarti bahwa produksi amonia sebagai sumber nitrogen utama dalam pembentukan protein mikroba telah terpenuhi, sehingga dapat memberikan sumbangan protein yang cukup bagi kebutuhan ternak ruminansia.

Daya cerna ternak terhadap produk silase ransum komplit berada dalam batas nilai cerna yang normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering terhadap silase ransum komplit dengan bahan baku sampah organik adalah sebesar 60,09 – 62,25 % dan kecernaan bahan organik sebesar 60,07 – 63,24 %. Nilai kecernaan tersebut sangat tergantung pada bahan suplemen yang dipakai.

0 komentar: