Minggu, 05 Oktober 2008

Profil Pandeglang

PANDEGLANG DALAM ANGKA

2007

A. Profil Kabupaten Pandeglang

Dalam upaya mencapai keberhasilan program pembangunan dan meningkatkan pertumbuhan pembangunan di wilayah Kabupaten Pandeglang, maka diperlukan adanya gerak pembangunan baik sektoral maupun regional sebagai suatu kesatuan yang integral, serasi, terpadu serta berdaya guna dan berhasil guna bagi semua lapisan masyarakat pada setiap wilayah. Integrasi dan keserasian pembangunan tersebut dapat ditempuh melalui pemberian perhatian yang khusus dan lebih besar kepada daerah-daerah yang kurang berkembang dan relatif terbelakang. Penigkatan pertumbuhan pembangunan juga dapat ditempuh melalui peningkatan daya guna dan hasil guna sektoral sesuai dengan potensi dan prioritas daerah, optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana sosial ekonomi serta koordinasi perwilayahan dan kerjasama pembangunan antar wilayah (Inter region).

Secara alamiah Kabupaten Pandeglang memiliki keuntungan geografis berupa letak yang sangat strategis dalam arus pergerakan manusia/barang/jasa dalam skala regional, nasional bahkan internasional, namun apabila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota di Propinsi Banten dalam pencapaian pembangunan masih relatif tertinggal, untuk itu dibutuhkan suatu kesamaan visi dan misi serta adanya suatu keinginan yang kuat dari setiap komponen masyarakat untuk secara bersama mendorong percepatan laju pembangunannya.

Upaya penataan Ruang diwujudkan melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata cara peran serta masyarakat dalam Penataan ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana tata Ruang Wilayah Nasional juga Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang.


IV.2.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah

Secara geografis wilayah Kabupaten Pandeglang terletak antara 6021/-7010/ Lintang Selatan (LS) dan 105015/-108011/ Bujur Timur (BT) dan luas wilayah seluruhnya mencapai 274.689,91 Ha (2.746,891 Km2). Kabupaten Pandeglang terletak di ujung Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Selat Sunda. Kabupaten Pandeglang termasuk dalam wilayah pembantu Gubernur Wilayah I Banten dan secara administrasi terdiri atas 4 wilayah kerja pembantu Bupati, 26 Kecamatan,13 Kelurahan, 322 Desa, 1.476 kampung/dusun dengan batas-batasnya sebagai berikut :

  1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Serang.
  2. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lebak.
  3. Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.
  4. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda.

IV.2.2 Geomorfologi dan Topografi Daerah

Dari segi geomorfologi, wilayah Kabupaten Pandeglang masuk dalam zona Bogor yang merupakan jalur perbukitan.

Topografi daerah Kabupaten Pandeglang sebagian besar merupakan dataran rendah dengan variasi ketinggian antara 0 - 1.778 m di atas permukaan laut (dpl). Di bagian tengah dan selatan yang merupakan wilayah terbesar (85,07 persen) mempunyai topografi datar sampai dengan bergunung-gunung, dengan ketinggian sedang yang meliputi daerah Gunung Payung (480 m), Gunung Honje (623 m), Gunung Tilu (582 m) dan Gunung Raksa (320 m) di wilayah Kecamatan Cimanggu, Sumur, Cibaliung, Cikeusik, Cigeulis, Panimbang, Munjul, Bojong dan Pagelaran.

Sementara di bagian utara atau 14,93 % dari luas wilayah merupakan dataran tinggi atau pegunungan seperti Gunung Karang (1.778), Gunung Pulosari(1.346 m), dan Gunung Asepuan (1.174 m) Kecamatan Labuan, Jiput, Menes, Saketi, Cimanuk, Mandalawangi, Banjar,Pandeglang dan Cadasari. Untuk mengetahui lebih jelas, luas dan jumlah penduduk serta kepadatannya Kabupaten Pandeglang dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel IV.1

Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Pandeglang


Kecamatan

Luas Wilayah (Km2)

Jumlah Desa

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Kepadatan Jiwa/Km2

1

Sumur

258.540

7

18.615

72

2

Cimanggu

259.730

12

31.569

121

3

Cibaliung

402.600

19

42.664

105

4

Cikeusik

322.760

14

45.459

140

5

Cigeulis

199.650

10

35.245

177

6

Panimbang

248.280

12

73.162

294

7

Munjul

132.680

27

39.208

295

8

Angsana

81.400

10

27.582

339

9

Picung

42.890

8

30.946

721

10

Bojong

85.770

8

30.600

356

11

Saketi

52.620

19

63.737

644

12

Pagelaran

67.890

33

90.462

601

13

Labuan

45.130

18

72.046

1.596

14

Jiput

85.021

21

47.805

562

15

Menes

46.860

18

54.901

1.171

16

Mandalawangi

50.410

15

40.131

796

17

Cimanuk

40.060

25

44.369

1.107

18

Cipeucang

21.160

10

25.396

1.200

19

Banjar

45.420

16

36.151

795

20

Kaduhejo

29.750

9

27.506

924

21

Pandeglang

36.430

10

72.492

1.990

22

Cadasari

63.130

27

70.752

1.120

23

Cisata

46.320

13

31.036

670

24

Patia

82.390

19

56.404

685

25

Cikedal *

10

26

Karangtanjung*

14

Jumlah

2.746.891

335

1.028.593

374

Sumber : Pandeglang Dalam angka 2003

Keterangan : * = belum ada data

Secara umum wilayah Kabupaten Pandeglang dikelompokkan dalam 3 bagian yang mempunyai perbedaan cukup tajam seperti :

a. Dataran tinggi seperti daerah pegunungan dan perbukitan dengan ketinggian kurang lebih 400 m dpl. Meliputi wilayah Kecamatan Cadasari, Pandeglang, Banjar, Mandalawangi, Menes, Jiput, Saketi, Bojong, Munjul, dan Cibaliung.

b. Dataran rendah (bukan pantai) ketinggian rata-rata 30 dpl. Meliputi wilayah Kecamatan Banjar, Cimanuk, Menes, Pagelaran, Labuan, Cimanggis dan Cikeusik.

c. Dataran rendah (pantai) ketinggian rata-rata 3 m dpl. Yang membentang dari wilayah barat sampai selatan meliputi wilayah Kecamatan Labuan, Cimanggu, Cibaliung, dan Cikeusik.

IV.2.3 Geologi

Secara geologis kandungan batuan di wilayah Kabupaten Pandeglang dapat dikelompokkan menjadi 6 jenis yaitu :

  1. Alluvium,terdapat di dataran tinggi, daerah pegunungan pinggiran pantai.
  2. Undifierentiated (bahan erupsi gunung berapi) di wilayah bagian utara yang meliputi Kecamatan Labuan, Jiput, Mandalawangi, Cimanuk, Menes, Banjar, Pandeglang, dan Cadasari.
  3. Diocena,banyak terdapat di wilayah bagian barat yang meliputi Kecamatan Cimanggu dan Cigeulis.
  4. Pliocena Sedimen,banyak terdapat di bagian selatan dan tersebar di wilayah Kecamatan Bojong, Munjul, Cikeusik, Cibaliung, dan Cimanggu.
  5. Micene Lemistone terdapat di sekitar Kecamatan Cimanggu bagian utara.
  6. Mineral Deposit mengandung belerang dengan sumber air panas terdapat di Kecamatan Banjar, Mineral Kapur/karang darat dan laut terdapat di wilayah Kecamatan Labuan, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, Cikeusik, dan Cadasari. Sedangkan serat batu gift banyak terdapat di Kecamatan Cigeulis. Disamping itu wilayah Kabupaten Pandeglang secara geologis juga banyak mengandung beberapa jenis mineral lain namun volumenya sangat kecil.

IV.2.4 Klimatologi

Berdasarkan klasifikasinya, iklim wilayah Kabupaten pandeglang termasuk type A (0,3-14,3 %) dan type B (4,3-33,3 %). Curah hujan rata-rata sebesar 3.814 mm/th. Sedangkan hari hujan sebesar 101 hari/th. Musim hujan umumnya terjadi pada bulan Nopember sampai dengan Maret, dengan curah hujan rata-rata 471 mm/bl. Sedangkan musim kemarau terjadi pada periode berikutnya yaitu April s/d Oktober.

Curah hujan terendah terdapat di daerah pantai atau rata-rata 3.816 mm/th dan semakin ke pedalaman cenderung meningkat. Sedang di wilayah bagian utara antara 2.000-3.000 mm/th dan bagian tengah antara 3.000-4.000 mm/th. Dibandingkan tahun sebelumnya (2000),banyaknya curah hujan di Kabupaten Pandeglang pada tahun 2003 secara rata-rata meningkat dari 205,04 mm menjadi 258,83 mm. Demikian juga rata-rata hari hujan,sebanyak 14,49 hari/bulan pada tahun 2000 menjadi 14,83 hari/bulan pada tahun 2001. Ini menunjukkan bahwa pada tahun 2001 musim hujan lebih panjang dibanding tahun 2000.

Secara umum karakteristik iklim di wilayah Kabupaten Pandeglang termasuk iklim daerah tropis. Dilihat dari kondisi geografis dan topografinya,suhu udara terendah di Kabupaten pandeglang mencapai 22,50 C dan tertinggi mencapai 27,90 C, dengan suhu di dataran rendah rata-rata 22,90 C dan di dataran tinggi 22,50 C dengan tekanan udara rata-rata 1.010 milibar, penyinaran matahari 66 % serta kelembaban nisbi 80 %.

IV.2.5 Hidrologi

Wilayah Kabupaten Pandeglang mempunyai sumber daya air cukup banyak, begitu juga aliran sungai baik yang bermuara di Samudera Indonesia maupun Selat Sunda. Seperti daerah lain, kondisi hidrologi di wilayah Kabupaten Pandeglang dibedakan menjadi 2 bagian yaitu air permukaan dan air tanah. Sedang air permukaan terdiri dari sungai dan danau. Jumlah sungai yang mengalir di wilayah ini cukup banyak yaitu 35 buah dengan panjang seluruhnya mencapai 835 Km dan luas daerah aliran sungai (DAS) 1.421,9 Km atau sekitar 46 % dari luas Kabupaten Pandeglang. Secara umum kondisi air tanah di wilayah ini relatif masih baik karena sebagian besar pemanfaatannya baru terbatas untuk keperluan rumah tangga.

IV.2.6 Lahan Dan Penggunaannya

Seperti daerah lain di Indonesia, penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Pandeglang sebagian besar dimanfaatkan untuk pertanian lahan basah (persawahan) maupun lahan kering (perladangan). Pertanian lahan basah di pandeglang seluas 52.596 ha atau 19,1 % dan lahan kering mencapai 222.094 ha atau 80,9 %. Konsentrasi pertanian lahan kering sebagian besar terdapat di wilayah Kecamatan Sumur dengan luas 45.887 ha dan sisanya tersebar di beberapa kecamatan. Selain untuk pertanian tanaman pangan, lahan kering di wilayah Kabupaten Pandeglang juga potensial untuk pengembangan berbagai tanaman palawija dan holtikutura (sayuran dan buah-buahan). Hal ini disebabkan kondisi geografis daerahnya sangat menunjang yaitu mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi, maka dapatlah dimaklumi apabila hampir semua jenis tanaman dapat dibudidayakan di wilayah ini.

Tabel IV.2

Luas Lahan Kering dan Penggunaannya Di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002


JENIS

LUAS (Ha)

1

Ladang dan Huma

26.272

2

Tegal dan Kebun

43.208

3

Kolam dan Empang

574

4

Kolam Tambak

172

5

Penggembalaan/Padang rumput

2.878

6

Perkebunan Besar

17.176

7

Hutan Rakyat

14.389

8

Bangunan dan Halaman

10.441

9

Tidak diusahakan

8.104

10

Hutan Negara

88.097

11

Rawa yang tidak ditanami

105

12

Lain-lain

10.678

JUMLAH

222.094

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Pandeglang tahun 2003

Sedang lahan basah (sawah) yang hanya 19,1 % umumnya telah dimanfaatkan secara optimal walaupun sebagian besar belum berpengairan teknis. Untuk mengetahui jenis pengairan lahan basah di Kabupaten Pandeglang dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel IV.3

Jenis dan Luas Pengairan Lahan basah Di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002

No

JENIS

LUAS (Ha)

1

Pengairan Teknis

7.197

2

Pengairan ½ Teknis

6.927

3

Pengairan sederhana P.U.

4.263

4

Irigasi Desa non P.U.

10.423

5

Tadah hujan

23.786

6

Pasang surut

0

7

Tidak diusahakan untuk pertanian

0

JUMLAH

52.596

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Pandeglang Tahun 2003

.2.7 Penduduk dan Tenaga Kerja

IV.2.7.1 Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Pandeglang berdasarkan data BPS tahun 2000 berjumlah 1.010.741 orang, yang terdiri dari 515.534 laki-laki dan 492.207 perempuan. Pada tahun 2001 jumlah penduduk meningkat menjadi 1.020.798 orang dengan komposisi penduduk laki-laki berjumlah 518.641 orang dan perempuan sebanyak 502.157 orang. Penduduk Kabupaten Pandeglang menurut jenis kelaminnya, menunjukkan bahwa penduduk laki-laki masih lebih besar dibanding penduduk perempuan.

Menurut BPS, laju pertumbuhan penduduk di wilayah Kabupaten Pandeglang cenderung menurun dalam waktu 30 tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat pada periode 1971-1980 sebesar 2,15 %, periode 1980-1990 sebesar 2,14 %, 1990-2000 sebesar 1,56 %. Sementara itu laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2000-2001 adalah sebesar 0,98 %.

Tabel IV.4

Penduduk Kabupaten Pandeglang Menurut Jenis Kelamin Dan Kecamatan Tahun 2001

No

Kecamatan

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

Sumur

9.414

9.201

18.615

2

Cimanggu

15.894

15.675

31.569

3

Cibaliung

21.676

20.988

42.664

4

Cikeusik

23.095

22.364

45.459

5

Cigeulis

18.092

17.153

35.245

6

Panimbang

36.938

36.224

73.162

7

Munjul

19.898

19.310

39.208

8

Angsana

14.095

13.487

27.582

9

Picung

15.739

15.207

30.946

10

Bojong

15.721

14.879

30.600

11

Saketi

32.234

31.503

63.737

12

Pagelaran

45.955

44.507

90.462

13

Labuan

36.560

35.486

72.046

14

Jiput

24.013

23.792

47.805

15

Menes

27.983

26.918

54.901

16

Mandalawangi

20.503

19.628

40.131

17

Cimanuk

22.267

22.102

44.369

18

Cipeucang

12.830

12.566

25.396

19

Banjar

18.156

17.995

36.151

20

Kaduhejo

13.681

13.825

27.506

21

Pandeglang

37.341

35.151

72.492

22

Cadasari

36.556

34.196

70.752

23

Cisata

16.352

14.684

31.036

24

Patia

29.695

26.709

56.404

25

Cikedal *

26

Karangtanjung *

JUMLAH

518.641

502.157

1.020.798

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

Persebaran penduduk Kabupaten Pandeglang relatif tidak merata, kecamatan dengan penduduk terjarang adalah Kecamatan Sumur dengan rata-rata sebanyak 72,00 0rang per kilometer persegi. Sementara itu kecamatan dengan jumlah penduduk terpadat adalah Kecamatan Pandeglang yaitu sebanyak 1.990,05 orang per kilometer persegi. Sedangkan menurut kelompok umur, penduduk Kabupaten Pandeglang yang berumur 5-9 tahun merupakan jumlah yang paling besar, diikuti kelompok umur 10-14 tahun dan kelompok umur 0-4 tahun.

Tabel IV.5

Penduduk Kabupaten Pandeglang Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur Tahun 2001

No

Kelompok Umur

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

0-4

61.987

56.402

118.389

2

5-9

75.376

65.703

141.079

3

10-14

68.945

60.947

129.892

4

15-19

54.497

52.524

107.021

5

20-24

32.992

36.894

69.886

6

25-29

39.211

74.978

87.189

7

30-34

35.627

34.237

69.864

8

35-39

32.996

39.002

71.998

9

40-44

29.835

24.488

54.323

10

45-49

22.138

16.175

38.313

11

50-54

16.550

29.361

45.911

12

55-59

17.181

13.521

30.702

13

60-64

12.334

11.527

23.861

14

65-69

9.171

6.431

15.602

15

70-74

5.336

3.663

8.999

16

75 +

4.465

3.304

7.769

Jumlah

518.641

502.157

1.020.798

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

IV.2.7.2. Tenaga Kerja

Dari jumlah penduduk sebanyak 1.020.798 orang (tahun 2001), sebanyak 761.330 orang atau 74,58 % diantaranya merupakan Penduduk Usia Kerja (PUK), bahkan 427.148 orang diantaranya merupakan angkatan kerja dan 334.182 orang penduduk bukan angkatan kerja. Sebagian besar (55,33 %) penduduk Kabupaten Pandeglang memiliki pekerjaan utama di sektor pertanian, jumlah ini menurun > 3 % dibandingkan tahun sebelumnya (tahun 2000) yang mencapai 57,82 %. Sektor lainnya pertambangan, industri pengolahan, bangunan, angkutan dan komunikasi, bank/jasa keuangan, dan jasa lainnya masing-masing <>

Tabel IV.6

Prosentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelgiatan Utama di Kabupaten Pandeglang Tahun 2001

NO

Kegiatan Utama

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

I

Angkatan Kerja

263.524

163.624

427.148

1.1 Bekerja

234.755

151.360

386.115

1.2 Mencari Kerja

28.769

12.264

41.033

II

Bukan Angkatan Kerja

117.754

216.428

334.182

2.1 Sekolah

65.584

60.278

125.862

2.2 Mengurus RT

7.154

115.967

123.121

2.3 Lainnya

45.016

40.183

85.199

III

Penduduk Usia Kerja

381.278

380.052

761.330

% Penduduk Bekerja Terhadap Angkatan Kerja

89,08

92,50

90,39

% Angkatan Kerja Terhadap Usia Kerja

69,12

43,05

56,11

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2002

Tabel IV.7

Prosentase Penduduk 10 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

di Kabupaten Pandeglang Tahun 2000 dan Tahun 2002

No

Lapangan Pekerjaan Utama

2000 (%)

2001 (%)

1

Pertanian

57,82

55,33

2

Pertambangan

0,41

0,62

3

Industri Pengolahan

5,14

6,67

4

Listrik,Gas dan Air Minum

0,23

0,20

5

Bangunan/Konstruksi

2,85

4,21

6

Perdagangan,Hotel & Restoran

17,47

18,56

7

Angkutan dan Komunikasi

6,52

5,41

8

Bank & Lembaga Keuangan

0,15

0,26

9

Jasa-jasa

9,41

8,74

Jumlah

100 %

100 %

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

IV.2.8 Sosial Budaya

Keberhasilan pembangunan di suatu daerah tidak harus dilihat dalam bentuk pembangunan fisik semata, melainkan juga harus dilihat secara keseluruhan termasuk dari aspek sosial budaya seperti aspek fisik dan mental. Dari aspek mental meliputi pembangunan sarana dan prasarana, sementara dari aspek mental meliputi kondisi mental penduduk.

Salah satu upaya untuk mencapai pemerataan yang mencakup usaha dalam rangka pembangunan bidang sosial budaya, Pemda Kabupaten Pandeglang telah mengupayakan berbagai usaha, meliputi : bidang pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana, agama, dan kehidupan sosial lainnya.

IV.2.8.1. Pendidikan

Salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan pendidikan adalah menyediakan berbagai sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Menurut data Kantor Departeman Pendidikan Nasional Kabupaten Pandeglang tahun 2002, fasilitas pendidikan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel IV.8

Jumlah Sekolah, Guru, Murid, dan Rasio Murid-Guru SD-SMU di Kabupaten Pandeglang

No

Jenis Sekolah

Jumlah Negeri

Jumlah Swasta

Jumlah Guru

Jumlah Murid

Rasio

Murid-Guru

1

SD

893

1

4.179

166.712

39,89

2

SLTP

51

9

683

26.428

38,69

3

SMU

10

5

209

7.224

34,56

4

SMK

2

7

228

3.511

15,40

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

Rasio antara jumlah murid dan guru tahun 2001, di Kabupaten Pandeglang menunjukkan bahwa untuk tingkat SD, SLTP, dan SMU adalah sebagai berikut : 39,89;38,69 dan 34,56. Rasio ini menggambarkan bahwa pada tingkat SD seorang guru mengajar 40 murid, sedang tingkat SLTP dan SMU mengajar 39 dan 35 orang murid.

Dibanding tahun sebelumnya, maka rasio guru dan murid pada tahun 2000 pada tingkat SD ada peningkatan. Pada tahun 2000 jumlah murid SD 168.660 orang dan guru sebanyak 5.498. Ini berarti rasio seorang guru SD mengajar 31 orang murid, demikian juga tingkat SLTP dan SMU, 1 orang guru mengajar 26 dan 24 orang murid.

IV.2.8.2. Kesehatan dan Keluarga Berencana

Pembangunan bidang kesehatan, umumnya bertujuan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan biaya yang terjangkau. Oleh karena itu diharapkan instansi terkait dapat menambah sarana dan prasarana kesehatan masyarakat serta kualitas pelayanannya. Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan tadi dapat dilihat dari kenaikan jumlah Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Pada tahun 2001 jumlah puskesmas bertambah menjadi 26 unit dari 20 unit tahun sebelumnya, demikan juga Puskesmas Pembantu naik menjadi 64 unit dari 63 unit tahun sebelumnya.

Jumlah Klinik Keluarga Berencana, baik klinik Dinas Kesehatan maupun swasta naik 5,13 persen, yaitu dari 78 unit pada tahun 2000 menjadi 82 pada tahun 2001. Demikian juga akseptor baru meningkat sebanyak 47,60 persen pada tahun 2000 sebanyak 17.832 orang menjadi 26.389 orang pada tahun 2001. Namun jumlah akseptor akti menurun dari 114.406 orang menjadi 112.002 orang.

Tabel IV.9

Jumlah Puiskesmas dan Klinik Keluarga Berencana (KB) Di Kabupaten Pandeglang

Tahun 2001 dan 2002

No

Jenis

Tahun 2001

Tahun 2002

1

Puskesmas Umum

20

26

2

Puskesmas Pembantu

63

64

3

Klinik Keluarga Berencana

78

82

4

Posyandu

1.239

1.357

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

IV.2.8.3. Agama

Kehidupan beragama di daerah Kabupaten Pandeglang sangat baik yang pengembangannya diarahkan untuk peningkatan akhlak dengan tetap mempertahankan kerukunan umat beragama. Berdasarkan data dari Departemen Agama Kabupaten Pandeglang tahun 2001, sebagian besar atau 963.116 orang (94,35 %) penduduk Kabupaten Pandeglang menganut Agama Islam, sisanya beragama Kristen Protestan 125 orang, Katholik 252 orang, Budha 193 orang , dan 30 orang penganut Hindu. Walaupun penganut Agama Islam mayoritas (94,35 %), namun para penganut agama yang lain dapat hidup berdampingan secara baik dengan dapat melaksanakan syariat ibadah agamanya masing-masing.

IV.2.8.4. Budaya

Secara umum, masyarakat asli Pandeglang adalah Sunda. Sehingga kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh adat dan kebudayaan Sunda. Namun demikian, ada kelompok-kelompok kesenian di Kabupaten Pandeglang yang tidak 100 persen berorientasi pada kebudayaan Sunda. Menurut sumber dari Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Pandeglang, banyaknya Kelompok Kesenian pada tahun 2001 adalah : Seni Tari 15 kelompok, Orkes Melayu 5 kelompok, Band 9 kelompok, Gambus 1 kelompok, Qasidah 28 kelompok, Wayang sebanyak 1 kelompok.

IV.2.9. Perekonomian

IV.2.9.1. Potensi Daerah

Dalam posisi sebagai daerah pantai, Kabupaten Pandeglang mempunyai potensi perikanan yang luas, yang meliputi perairan laut 36.406 ton per tahun, perairan umum 2.600 ton per tahun, serta budidaya tambak yang dikembangkan seluas 13.000 hektar dengan potensi produksi 333 ton per tahun.

Potensi perairan di Kabupaten Pandeglang terdiri dari perairan laut dan perairan darat/sungai,danau dan waduk. Kondisi perairan tersebut belum ditata secara optimal, sebagai contoh perairan laut baru Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang sudah memiliki batas wilayah yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, sedangkan perairan Selat Sunda dan Samudra Indonesia dan 155 anak sungai yang bermuara ke sungai besar tersebut di atas.

Jenis tanaman pangan di Kabupaten Pandeglang terdiri dari tanaman padi yaitu : padi sawah dan padi ladang, tanaman palawija yaitu : jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, jenis tanaman buah-buahan, dan tanaman sayur-sayuran. Untuk jenis tanaman perkebunan terdiri dari karet, kelapa, kelapa hibrida, kelapa sawit, kopi, teh, cengkeh, lada, Cacao, aren, dan lapolaga. Jenis ternak yang ada di Kabupaten Pandeglang terdiri dari kerbau, kambing, domba, ayam buras, dan itik.

Potensi lainnya yang dimiliki oleh Kabupaten Pandeglang dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah adalah potensi kehutanan. Luas Kabupaten Pandeglang adalah 247.689.91 ha yang sebagian besar terdiri dari lahan kering, di mana di dalamnya terdapat 117.748,50 ha merupakan kawasan hutan (48,87 %) yang terdiri dari hutan lindung dengan luas 8.186 ha, hutan produksi dengan luas 33.328 ha, hutan konversi dengan luas 10 ha, Taman Nasional dengan luas 76.213 ha, dan hutan bakau 9,50 ha.

Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi produktif yang saat ini terus dikembangkan di Kabupaten Pandeglang sebagai sumber pendapatan tambahan bagi Kabupaten Pandeglang. Daerah Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai potensi wisata cukup tinggi terutama wisata alam, pantai, pegunungan, dan wisata budaya. Selain itu, potensi pertambangan di Kabupaten Pandeglng juga mulai dapat diandalkan. Bahan tambang tersebut terdiri dari beberapa bahan mineral deposit yang terbagi atas :

a. Belerang dan sumber air panas di Kecamatan Banjar.

b. Kapur/karang dan laut di Kecamatan Labuan, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung,Cikeusik, Cadasari.

c. Serat batu gift, terdapat di Kecamatan Cigeulis.

IV.2.9.2. Pertanian Tanaman Pangan

Jenis tanaman pangan yang ada di Kabupaten Pandeglang adalah padi (padi sawah dan padi ladang) dan palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar ).

Tabel IV.10

Hasil Produksi Padi dan Palawija di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002

Jenis Tanaman

Luas Tambah Tanam (Ha)

Luas Panen (Ha)

Produktifitas per/Ha (Ton/Ha)

Produksi (Ton)

PADI

1.Padi Sawah

2.Padi Ladang

PALAWIJA

1.Jagung

2. Kedelai

3. Kacang Tanah

4. Kacang Hijau

5. Ubi Kayu

6. Ubi Jalar

97.679

13.119

602

1.334

425

505

1.140

560

89.718

16.129

2.103

1.890

909

1.045

2.278

575

4,85

2,42

2,30

1,14

1,23

1,04

13,00

12,81

474.060

435.096

38.964

46.182

4.837

2.159

1.119

1.087

29.614

7.366

Sumber : Pandeglang Dalam angka 2003

Selain sektor pertanian tanaman pangan, wilayah Kabupaten Pandeglang juga banyak menghasilkan produksi perkebunan seperti buah-buahan dan holtikutura (sayuran).

IV.2.9.3. Sektor Perkebunan

Jenis komoditas yang dihasilkan di sektor ini adalah : karet, kelapa hybrida, kelapa sawit, kopi, teh, cengkeh, lada, kakao, kapuk, panili, aren, pandan, dan kapulaga. Komoditas yang menyumbangkan nilai tambah dengan hasil produksi yang tertinggi adalah : kelapa sawit sebesar 134.701,419 ton, kelapa dan kelapa hybrida sebesar 25.220,394 ton, karet 1.104,999 ton, kopi sebesar 1.247,945 ton, dan cengkeh sebesar 373,995 ton.

Tabel IV.11

Hasil Produksi Perkebunan Unggulan di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002

No

Jenis Tanaman

Luas Areal/Ha

Produksi/ton

1

2

3

4

5

Kelapa Sawit

Kelapa dan Kelapa Hybrida

Karet

Kopi

Cengkeh

3.119

53.524

3.189

4.256

6.615

134.701,419

25.220,394

1.104,999

1.247,945

373,995

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

IV.2.9.4. Sektor Peternakan

Pengembangan sektor peternakan di wilayah Kabupaten Pandeglang cukup bagus. Di samping pengembangannya diarahkan pada ternak besar seperti kerbau, sapi, kambing, dan sebagainya, ternak kecil (unggas) juga dibudidayakan dengan baik. Kegiatan peternakan itu meliputi : pembibitan, budidaya, pengembang-biakkan, penggemukan, pembesaran, pemotongan, pengulitan, petelur, dan sebagainya.

Tabel IV.12

Produksi Hasil Ternak dan Unggas di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002

No

Jenis Ternak

Daging/Ton

Telor/Ton

Kulit/Lembar

1

2

3

4

5

6

7

Sapi

Kerbau

Kambing

Domba

Ayam Buras

Ayam Daging

Itik

54.810

974.600

788.900

1.055.810

2.338.050

24.043

43.940

--

--

--

--

903,00

--

499,00

237

4.430

15.778

16.893

--

--

--

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003


IV.2.9.5. Sektor Perikanan

Sektor perikanan di Kabupaten Pandeglang selain diarahkan pada usaha penangkapan (perikanan laut) juga budidaya air tawar (perikanan darat). Produksi tangkapan ikan laut yang dilelang di TPI pada tahun 2001 mencapai 2.668,347 ton yang berarti meningkat 37,84 persen dibanding tahun 2000 yang sebesar 1.935,870 ton. Sedangkan hasil budidaya ikan tawar (tambak) pada tahun 2000 sebesar 5.333,90 ton menjadi sebesar 5.302,80 ton. Mengingat Kabupaten Pandeglang mempunyai garis pantai terpanjang di Propinsi Banten yaitu 230 Km, maka sudah sewajarnyalah apabila hasil tangkapannya dapat ditingkatkan, terlebih potensi lautnya cukup melimpah diperkirakan mencapai 92.917,700 ton dan baru dimanfaatkan sebesar 29.592,300 ton.

Tabel IV.13

Produksi Ikan,Hasil Tangkapan dan Olahan di Kabupaten Pandeglang Tahun 2002

No

Uraian

Jumlah Produksi

I

II

Ikan Yang Diolah

1.Konsumsi segar

2.Pengasinan

3.Pindang

4.Peda

5.Lainnya

Ikan Olahan

1.Pengeringan

2.Pindang

3.Peda

4.Lainnya

29.592,30

14.598,80

11.247,50

2.419,20

996,50

330,30

9.614,30

7.593,60

1.336,30

552,30

132,10

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003


IV.2.9.6. Sektor Industri

Industri merupakan sektor yang menjadi salah satu kontribusi dalam perekonomian regional Kabupaten Pandeglang. Dari 10.175 perusahaan dengan tenaga kerja 20.639 orang, terdapat 19 perusahaan industri besar/sedang dengan tenaga kerja sebanyak 1.257 orang.

Tabel IV.14

Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Sub Sektor Industri di Kabupaten Pandeglang

Tahun 2001

No

Sub Sektor Industri

Jumlah Perusahaan

Jumlah tenaga Kerja

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Makanan dan minuman

Pakaian jadi,tekstil dan barang dari kulit

Kayu dan perabot rumah tangga

Kertas,percetakan dan penjilidan

Kimia,minyak bumi,batu bara,karet/plastik

Industri barang galian bukan logam

Industri logam dasar

Industri barang dari logam

Industri pengolahan lainnya

8.359

26

1.380

2

1

--

--

384

23

--

--

16.385

97

2.963

4

6

--

--

1.118

66

--

--

Jumlah

10.175

20.639

Sumber : Pandeglang Dalam Angka 2003

Jenis industri di Pandeglang sebagian besar (82,15 %) merupakan industri makanan dan minuman, kemudian disusul oleh industri kayu sebesar 13,56 % industri barang dari logam 3,77 %,sedangkan industri lainnya masing-maisng di bawah 1 persen.

IV.2.9.7. Sektor Pariwisata

Potensi pariwisata di Kabupaten Pandeglang cukup besar namun belum pemanfaatan belum optimal, terutama wisata pantai. Keindahan kawasan pantai ini dapat dikembangkan menjadi obyek wisata yang menarik para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Di kawasan ini terdapat 6 kawasan wisata yang potensial untuk dikembangkan, antara lain : Taman Nasional Ujung Kulon dengan prioritas utama sebagai kawasan pengendalian flora dan fauna serta pengembangan wisata. Kawasan Pantai Carita, Kawasan Wisata Tanjung Lesung, Kawasan Wisata Situ Kedal, Kawasan Wisata Pantai Bama, dan Kawasan Wisata Gunung Karang.

Diantara obyek-obyek wisata tersebut, hingga saat ini yang paling banyak dikunjungi para wisatawan adalah obyek wisata Pantai Carita dan Konversi Ujung Kulon. Dampak dari perkembangan sektor pariwisata ini dapat mengangkat perkembangan sektor-sektor lainnya, seperti perdagangan, hotel, restoran, industri kerajinan, angkutan, dan tenaga kerja.

Semuanya ini merupakan visi dari pola dasar pembangunan Kabupaten Pandeglang, yaitu : “ Kabupaten Pandeglang dengan Agribisnis dan Daerah Tujuan Wisata Unggul di Propinsi Banten 2005 ” , maka kegiatan pariwisata di daerah ini cukup potensial untuk menunjang pembangunan daerah. Paling tidak, dapat diandalkan sebagai salah satu sumber devisa untuk membiayai pembangunan daerah.

IV.2.9.8. Sektor Kehutanan

Hutan mempunyai peranan sangat penting untuk menjaga stabilitas sumber daya alam. Hutan di Kabupaten Pandeglang dibagi dalam 3 kategori, yaitu hutan lindung, hutan produksi, dan taman nasional. Taman Nasional seluas 76.118 Ha, terdiri dari ujung kulon tempat badak bercula satu seluas 17.500 Ha dan Gunung Honje 19.498 Ha. Hutan lainnya terdapat di BKPH Pandeglang 13.324 Ha,BKPH Sobang 12.316 Ha dan BKPH Cikeusik seluas 15.328 Ha.

IV.2.10. Infrastruktur

IV.2.10.1. Prasarana Jalan

Perhubungan darat merupakan salah satu sektor yang cukup besar peranannya dalam pembangunan, karena kontribusinya untuk menembus isolasi daerah. Pembangunan akan semakin meningkat kalu lalu lintas hubungan daratnya tidak mengalami hambatan, terutama dalam membawa hasil produksi dan bahan baku. Panjang jalan di Kabupaten Pandeglang pada akhir tahun 2001 sepanjang 405,06 kilometer dengan kondisi jalan sebagian besar beraspal. Rincian jaringan jalan tersebut adalah sebagai berikut : beraspal sepanjang 308,82 kilometer (76,24 %), pengerasan sepanjang 60,80 kilometer (15,01 %0 dan tanah sepanjang 35,44 kilometer (8,75 %).

IV.2.10.2. Prasarana Air Bersih

Air bersih merupakan kebutuhan utama penduduk, terutama untuk minum sehari-hari. Dewasa ini, kebutuhan air bersih semakin dirasakan oleh masyarakat setempat. Meningkatnya produksi air minum dari 1.496.921 m3 pada tahun 2000 menjadi 2.637.264 m3 pada tahun 2001 atau naik sebesar 76,25 %. Sejalan dengan meningkatnya jumlah pelanggan PDAM Kabupaten Pandeglang sebesar 6,62 % dari 6.479 pelanggan pada tahun 2000 menjadi 6.908 pelanggan pada tahun2001. Sedangkan masyarakat yang belum terrjangkau kebutuhan air bersihnya dari PDAM, mereka masih memanfaatkan sumber-sumber air alami (mata air,sumur) yang ada di pelosok pedesaan.

IV.2.10.3. Prasarana Listrik

Semakin berkembangnya pembangunan daerah, berpengaruh terhadap kebutuhan akan energi listrik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pelanggan listrik selama dua tahun terakhir yang meningkat 17,22 %. Walaupun prosentase perlistrikan sudah menembus seluruh kecamatan, namun baru 96,70 % desa yang dapat menikmatinya. Dibandingkan tahun sebelumnya jumlah yang berlistrik meningkat sebesar 12,05 %. Pada tahun 2001 jumlah Kwh terjual adalah sebesar 85.326.728 Kwh dengan nilai sebesar Rp.26.056 juta.

Tabel IV.15

Hasil Kegiatan Pertusahaan Listrik Negara (PLN) di Kabupaten Pandeglang Tahun 2001

Uraian

Satuan

Jumlah/Nilai

1.Ikhtiar Penjualan Tenaga Listrik

a.Jumlah Pelanggan

b.Jumlah KWH terjual

c.Jumlah V.A. tersambung

d.Nilai KWH terjual

2.Keadaan Listrik Terpasang

a.Panjang Route SUTM

b.Panjang Route SUTR

c.Jumlah Gardu Distribusi

d.Jumlah Daya Terpasang

3.Persentase Perlistrikan

a.Wilayah Kecamatan

b.Wilayah Kelurahan

c.Wilayah Desa

Pelanggan

KWH

VA

Rupiah

Meter

Meter

Unit

KVA

%

%

%

115.728

85.326.728

81.830.750

26.056.390.215

1.034.250

1.285.645

780

86.145

100,00

100,00

96,70

Sumber : PLN Ranting Pandeglang dan Labuan

IV.2.10.4. Prasarana Komunikasi

Peranan Komunikasi, yang terdiri dari Pos dan Telekomunikasi dalam struktur perekonomian Kabupaten Pandeglang memang tidak begitu dominan, kalau dilihat jumlah Kantor Pos/Kantor Pos Pembantu hanya 9 buah, serta jumlah Kantor Telepon hanya sejumlah 14 buah saja. Namun dalam membantu menunjang pembangunan daerah peranannya bisa dikatakan relatif besar, sebab tanpa adanya kontribusi pos dan telekomunikasi, dunia usaha di daerah Kabupaten Pandeglang tidak semaju seperti sekarang.


IV.2.11. Perkembangan PDRB

Pendapatan Regional merupakan salah satu indikator untuk mengukur kemajuan perekonomian suatu wilayah. Nilai ini diperoleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dikurangi penyusutan, pajak tak langsung dan pendapatan yang dibayarkan keluar region/wilayah ditambah pendapatan yang diperoleh dari luar. Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi satu daerah dalam suatu periode tertentu dapat dilihat dari data Produk Domestiik Regional Bruto (PRDB), baik atas harga berlaku (nominal) maupun harga konstan (riil).

PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga setiap tahun, sedangkan PDRB atas harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jkasa tersebut yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar, di mana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993 : PDRB atas harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Struktur perekonomian negara berkembang umumnya didominasi oleh sektor tradisional (padat karya). Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pola kehidupan pendapatan dari sektor ini,di samping itu, pertanian juga menyediakan kebutuhan dasar manusia pada umumnya. Di Kabupaten Pandeglang, sektor-sektor yang mendominasi perekonomian tahun 2000 adalah sektor pertanian, yaitu sebesar 35,7 % ; sektor industri pengolahan sebesar 11,61 % ; sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 24,34 % sektor jasa-jasa sebesar 11,88 %. Keempat sektor inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Pandeglang. Kontribusi keempat sektor ini terhadap PDRB Pandeglang mencapai 83,6 %. Di luar keempat sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 4,72 % ; sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,78 % ; sektor bangunan sebesar 3,74 % ;sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,09 % ; serta listrik, gas, dan air bersih sebesar 1,07 %. Dalam laporan ini pembahasan sektor ini dominasinya pada perekonomian Kabupaten Pandeglang.

V.2.11.1. Sektor Pertanian

Sejak tahun 1994-2000,sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang memang mendominasi perekonomian yaitu 41,07 persen pada tahun 1994 dan menjadi 35,77 persen pada tahun 2000. Secara umum, trend perubahan proporsi masing-masing sektor dengan penurunan peran sektor pertanian, proses transformasi struktural terjadi dengan terlihatnya kecenderungan semakin meningkat peranan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, yaitu dari 19,51 persen pada tahun 1994 menjadi 24,34 persen pada tahun 2000, serta industri pengolahan, yaitu dari 7,82 persen pada tahun 1994 menjadi 11,61 persen pada tahun 2000, terhadap total Pendapatan Domestik Regional Bruto Kabupaten Pandeglang.

Hal ini menunjukkan secara jelas tentang terjadinya proses transformasi struktural untuk memberikan arah bagi perekonomian berkembang ke arah sektor sekunder, sejalan dengan sumbangan sektor pertanian yang turut mengecil. Namun ternyata, pada tahun 1998 saat perekonomian nasional mengalami krisis, peranan sektor pertanian meningkat kembali, ini diikuti dengan peningkatan dua sektor lainnya dalam PDRB Pandeglang pada masa krisis tersebut, yaitu sektor industri lainnya relatif mengalami penurunan, termasuk sektor perdagangan, restoran, dan hotel.

Kondisi demikian dapat dimengerti mengingat produk pertanian yang relatif memiliki input lokal (local contains) yang tinggi mengakibatkan daya saingnya menjadi relatif meningkat. Harga produk pertanian dalam nilai rupiah menjadi meningkat sehingga menimbulkan insentif untuk meningkatkan produksi pada sektor ini, sehingga berimplikasi terhadap peningkatan peranannya terhadap perekonomian daerah. Hal yang serupa, dapat pula ditemukan pada sektor industri pengolahan yang sebagian (besar) berbahan baku lokal, yang mengalami dampak kecil dengan adanya fluktuasi nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. Kenyataan ini memberikan masukan bahwa Kabupaten Pandeglang memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan industrinya pada masa yang akan datang khususnya industri yang berbasiskan pertanian.

Data empiris selama periode 1994-2000 menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang didominasi oleh sub-sektor tanaman bahan makanan yaitu sebesar 29,33 persen pada tahun 1994 menjadi 21,58 persen pada tahun 2000 terhadap total produk sektor pertanian. Kecenderungan penurunan dari sub-sektor tanaman bahan makanan ini, diimbangi oleh kecenderungan peningkatan peranan dari sub-sektor tanaman perkebunan dalam kontribusinya terhadap sektor pertanian. Kecenderungan peningkatan kontribusi sub-sektor perkebunan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang memiliki ketergantungan yang erat pada sub-sektor perkebunan. Implikasi lebih lanjut tentunya adalah perkebunan dapat dijadikan andalan oleh Kabupaten Pandeglang dan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian. Setelah sub-sektor tanaman bahan makanan dan perkebunan, peranan yang besar diikuti oleh sub-sektor perikanan, peternakan, dan terakhir adalah dari sub-sektor kehutanan.

Namun, setelah krisis ekonomi terjadi, peranan setiap sub-sektor mengalami perubahan yang cukup signifikan. Periode 1998-2000, ditunjukkan oleh tetap dominannya sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap keseluruhan sektor pertanian di Kabupaten Pandeglang, walaupun memang terlihat, bahwa presentase/proporsinya mengalami penurunan untuk periode 1998-2000. Khususnya untuk sub-sektor perkebunan, walaupun peranannya tidaklah dominan dibandingkan sub-sektor tanaman bahan makanan, perkebunan tetap menjadi sub-sektor terdominan ke 2 setelah sub-sektor tanaman bahan makanan, yaitu sebesar lebih dari 25 persen dari keseluruhan nilai sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa depresiasi Rupiah memberikan keuntungan yang sangat besar bagi pengembangan produk perkebunan sehingga peranannya meningkat secara cepat mulai tahun 1998, walaupun relatif tidak terlalu besar seiring dengan meningkatnya peranan sub-sektor perkebunan ini, ternyata sub-sektor tanaman bahan makanan mengalami penurunan yang drastis pada tahun 1998 dan pada tahun 2000.

Kenyataan ini memberikan pemahaman bahwa jika ingin mengembangkan sektor pertanian, maka sub-sektor perkebunan haruslah juga diberikan perhatian yang besar untuk pengembangan ke periode-periode berikutnya, mengingat peranannya yang sangat besar terhadap sektor pertanian. Sub-sektor kehutanan layaknya sub-sektor tanaman perkebunan mengalami peningkatan peranan sejak tahun 1998 terhadap keseluruhan sektor pertanian. Sub-sektor perikanan dan sub-sektor peternakan menunjukkan pola yang hampir serupa dengan sub-sektor tanaman perkebunan dan sub-sektor kehutanan, di mana tingkat pertumbuhan sub-sektor peternakan memiliki prosentase nilai pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan yang dialami dalam sub-sektor perikanan,dengan peranannya yang berkisar antara 9 persen-10 persen dari total sektor pertanian.

IV.2.11.2. Sektor Industri

Peranan sektor industri cukup penting, merupakan sektor tertinggi ke- 4 dalam hal sumbangsih untuk menggerakkan perekonomian Kabupaten Pandeglang. Prosentase sumbangannya terhadap PDRB Pandeglang tahun1994 adalah 7.82 persen dan pada tahun 2000 meningkat relatif besar, yaitu menjadi 11,61 persen. Peranan sektor ini relatif stabil, namun laju pertumbuhannya fluktuatif. Terjadinya fenomena pada sektor ini, di mana tingkat pertumbuhan tahun 1995 menurun menjadi 2,46 persen dan meningkat tajam menjadi 20,87 persen pada tahun 1996, setelah itu mengalami penurunan kembali sebesar 10,54 persen pada tahun 1997 dan ternyata berbalik meningkat tajam sebesar 27,61 persen pada tahun 1998 sebagai tahun awal dimulainya krisis ekonomi. Dan dalam periode krisis ekonomi selanjutnya ternyata anjlok menjadi 5,31 persen pada tahun 1999 dan terus merosot hingga -1,25 persen pada tahun 2000.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Pandeglang sebelum krisis ekonomi untuk sektor industri adalah lebih ditekankan industri yang menggunakan teknologi canggih serta mengutamakan bahan baku yang diimpor. Akibatnya sektor industri mengalami kemajuan, tetapi tidak dapat meningkatkan peranan sektor lain seperti sektor pertanian yang menghasilkan bahan baku. Disamping itu, sektor industri juga kurang menyerap tenaga kerja sehingga perkembangan sektor industri tidak mengurangi tingkat pengangguran. Sebagai tambahan, industri kecil serta industri rumah tangga kurang mendapat perhatian, sehingga walaupun berkembang dan tahan terhadap krisis ekonomi, namun perkembangannya belum seperti yang diharapkan semua pihak.

Sehubungan dengan kondisi di atas, maka pembangunan sektor industri untuk masa mendatang lebih ditekankan pada keterkaitan antara industri hulu dan industri hilir dengan sasaran industri menengah, industri kecil, dan industri rumah tangga serta industri besar yang menggunakan teknologi canggih yang merupakan mitra kerjasama yang saling menguntungkan. Untuk itu diperlukan kebijakan keterkaitan antara industri besar dan industri menengah, industri kecil, dan industri tumah tangga sebagai mitra produksi. Selanjutnya sifat industri yang perlu dikembangkan adalah agro-industri yang menghubungkan antara hasil-hasil pertanian dengan proses industri, sehingga komoditi pertanian dapat diolah sedemikian rupa, dalam rangka memperbesar nilai tambah secara lebih memadai.

IV.2.11.3. Sektor Perdagangan,Hotel dan Restoran

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran adalah sektor tertinggi ke- 2 dalam sumbangannya untuk menggerakkan perekonomian Kabupaten Pandeglang. Pada tahun 1994, sumbangan sektor ini adalah sebesar 19,51 persen dan meningkat sebesar 24,34 persen pada tahun 2000. Pola pergerakan sektor ini pun serupa dengan pola perubahan nilai beberapa sektor lainnya, di mana hingga tahun 1997 peranannya terus mengalami peningkatan,namun pada tahun 1998 mulai mengalami penurunan. Hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh krisis ekonomi yang terjadi sehingga perdagangan mengalami kelesuan.

Sub-sektor perdagangan sendiri memberikan porsi terbesar untuk sektor ini yaitu sebesar 66,80 persen pada tahun 1994 dan meningkat menjadi 72,23 persen pada tahun 2000. Peran dominan sub-sektor perdagangan inilah yang mendominasi dalam sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sehingga terjadi dampak buruk pada sub-sektor ini,yang mengakibatkan keseluruhan sektor mengalami pengaruh yang sama.

IV.2.11.4. Sektor Keuangan,Persewaan dan Jasa Perusahaan

Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan memberikan peran tertinggi ke-6 terhadap perekonomian Kabupaten Pandeglang. Pada tahun 1994 sektor ini menyumbang sebesar 5,19 persen terhadap total PDRB, namun mengalami penurunan menjadi 4,72 persen pada tahun 2000. Sub-sektor sewa bangunan memiliki porsi terbesar pada sektor ini, yaitu sebesar 65,62 persen pada tahun 2000. Sub-sektor jasa perusahaan memberikan porsi terbesar ke-2, yang diikuti oleh sub-sektor lembaga keuangan nonbank dan sub-sektor bank.

IV.2.11.5. Sektor Jasa-jasa

Sektor jasa-jasa memberikan porsi pada PDRB Pandeglang sebesar 11,88 persen pada tahun 2000. Pada tahun 2000, sub-sektor pemerintahan umum mendominasi sektor jasa-jasa dengan sumbangannya sebesar 67,9 persen. Peranan sektor ini relatif stabil pada kisaran 8,1 persen dari total PDRB. Selain pemerintahan umum, jasa swasta memiliki peranan yang relatif kecil (32,2 persen) dibandingkan dengan jasa yang diberikan oleh pemerintah. Pada masa yang akan datang peran swasta dalam sektor jasa ini harus terus ditingkatkan agar keterlibatan dalam proses pembangunan ekonomi dapat meningkat yang pada akhirnya akan memberikan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

IV.2.11.6. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor pengangkutan dan komunikasi terus mengalami peningkatan peranannya dalam menggerakkan perekonomian walaupun dalam kisaran yang relatif kecil. Tahun 1994 sektor ini menyumbang terhadap perekonomian daerah sebesar 6,78 persen. Sub-sektor pengangkutan merupakan sub-sektor yang mendominasi nilai sektor pengangkutan dan komunikasi, yaitu sebesar 96,6 persen lebih dari total nilai sektor pengangkutan dan komunikasi, yaitu sebesar 96,6 persen lebih dari total nilai sektor ini pada tahun 1994 dan mengalami penurunan menjadi 93 persen pada tahun 2000. Tak dapat kita sangkal bahwa sub-sektor komunikasi sudah selayaknya mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintahan daerah, mengingat pada era seperti ini, peranan komunikasi menjadi sangat vital. Pembangunan jaringan sambungan telepon yang memadai akan memberikan efek pengganda bagi kegiatan perekonomian pada sektor lainnya. Oleh karena itu dalam pembangunan infrastruktur komunikasi ini, pantaslah kiranya untuk lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah Pandeglang.

IV.2.11.7. Sektor Bangunan

Sektor bangunan periode 1994-2000 berperan antara 6,13 persen – 3,74 persen dalam perekonomian daerah Pandeglang. Gejala yang sangat dominan dari sektor ini adalah kuatnya pengaruh dari krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya. Dalam periode 1994-1997 (periode sebelum krisis), nilai sektor ini menunjukkan fluktuasi naik-turun yang tidak terlalu besar. Namun pada saat periode krisis terjadi, nilai sektor bangunan pun mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya harga-harga bahan konstruksi yang sangat dipengaruhi oleh depresiasi rupiah yang berlangsung pada waktu itu.

IV.2.11.8. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian memang memiliki peranan yang kecil terhadap perekonomian daerah yaitu berkisar antara 0,16 persen – 0,089 persen pada periode 1994-2000. Peranan sektor ini baik pada masa sebelum krisis (periode 1994-1997) maupun setelah krisis (1998-2000),mengalami kecenderungan yang sama untuk mengalami trend penurunan. Sektor pertambangan dan penggalian ini semata-mata ditopang oleh sub-sektor penggalian.

IV.2.11.9. Sektor Listrik,Gas, dan Air Bersih

Sektor listrik,gas dan air bersih didominasi oleh sub-sektor listrik. Gas alam tidak terdapat di Pandeglang, sehingga tidak berperan sama sekali dalam menentukan output perekonomian secara keseluruhan. Sektor ini berperan sangat kecil terhadap penentuan nilai PDRB,yaitu hanya 0,45 persen hingga 1,07 persen selama periode 1994-2000. Peranan yang sangat kecil seperti ini menunjukkan bahwa penyediaan listrik dan air bersih selama ini dirasakan sangat kurang,sehingga pada masa yang akan datang, pengembangan infrastruktur kelistrikan di Pandeglang diharapkan menjadi suatu prioritas untuk mendukung pertumbuhan pada sektor lain. Dibandingkan dengan air bersih, sub-sektor listrik berperan sangat dominan pada penentuan nilai pada sektor ini, yaitu mencapai lebih dari 80 persen pada tahun 2000 dari nilai sektor listrik, gas, dan air bersih.

IV.2.11.10. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Angka pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran umum mengenai kemajuan ataupun kemunduran perekonomian suatu daerah. Oleh karena itu, angka pertumbuhan ekonomi merupakan suatu fenomena menarik untuk diamati perkembangannya dari tahun ke tahun. Secara umum, perekonomian Kabupaten Pandeglang tumbuh pada tingkat yang sangat fluktuatif. Kecenderungannya memang menunjukkan bahwa dari tahun 1996 hingga tahun 1998 terlihat mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 1995, perekonomian daerah tumbuh sebesar 6,58 persen. Namun tingkat pertumbuhan ini terus mengalami penurunan,terutama sejak tahun 1996, sehingga pada tahun 1998 tingkat pertumbuhan semakin memburuk yang lebih diperparah dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi, sehingga tingkat pertumbuhannya bahkan merosot hingga minus 7,73 persen. Tingkat pertumbuhan pada tahun 1998 ini diperkirakan relatif serupa dengan sebagian besar daerah lain serta perekonomian secara nasional, yang juga mengalami pertumbuhan negatif. Hal ini memperlihatkan bahwa secara relatif Kabupaten Pandeglang memiliki ketahanan yang relatif lemah dalam menghadapi situasi resesi, seperti halnya yang dialami daerah-daerah lain dan perekonomian nasional secara keseluruhan.

IV.3 Identifikasi Struktur Tata Ruang

IV.3.1 Hirarki Dan Jangkauan Pusat Pelayanan

Untuk mengetahui hirarki, fungsi dan jangkauan pusat-pusat pelayanan serta penyusunan konsep struktur tata ruang wilayah Kabupaten pandeglang digunakan metode Skalogram Guttman. Secara umum tahapan yang harus dilalui untuk menyusun konsep struktur tata ruang tersebut adalah :

a. Tahap I : Pengukuran Pringkat pusat pelayanan (rank size) berdasarkan jumlah penduduk, kelengkapan fasilitas pendukung dan aksessibilitas.

b. Tahap II : Analisis terhadap pola interaksi sosial ekonomi antara pusat pelayanan dengan wilayah jangkauan pelayanannya.

c. Tahap III : Merumuskan terhadap struktur tata ruang yang dituju pada akhir tahun perencanaan.

Pusat pelayanan yang dimaksud disini adalah kota yang berfungsi sebagai pusat pemukiman dan pusat kegiatan sosio ekonomi dimasing-masing wilayah kecamatan. Masing-masing pusat pelayanan tersebut membentuk suatu hierarki yang ditentukan oleh kelengkapan dan banyaknya fasilitas pada pusat pelayanan tersebut, jumlah penduduk serta tingkat aksessibilitas terhadap wilayah pelayanannya.

Fasilitas pada pusat pelayanan pada umumnya terdiri dari fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan, ketersediaan energi listrik, air bersih dan telepon. Penentuan pusat hierarki pelayanan di Kabupaten Pandeglang menggunakan metode skalogram Guttman. Berdasarkan perhitungan menggunakan metode tersebut maka didapat hierarki pelayanan di Kabupaten Pandeglang (lihat tabel dibawah ini).

Tabel IV.16

Hierarki Pusat Pelayanan di Kabupaten Pandeglang

No

Kecamatan

Tinggi (3)

Sedang

(2)

Rendah (1)

Nilai

Skala

Nilai

Aktual

Rangking

F

P

A

F

P

A

F

P

A

1

Labuan

x

x

x

9

9

I

2

Pandeglang

x

x

x

X

9

9

II

3

Panimbang

x

x

x

8

8

III

4

Saketi

x

x

x

7

7

III

5

Menes

x

x

x

7

7

III

6

Cibaliung

x

x

x

7

7

III

7

Cikeusik

x

x

x

7

7

III

8

Cimanuk

x

x

x

7

7

III

9

Pagelaran

x

x

x

7

7

III

10

Mandalawangi

x

x

x

6

6

IV

11

Kaduhejo

x

x

x

6

6

IV

12

Cipeucang

x

x

x

6

6

IV

13

Bojong

x

X

x

6

6

IV

14

Munjul

x

X

x

6

6

IV

15

Patia

x

X

x

6

6

IV

16

Jiput

x

X

x

6

6

IV

17

Picung

x

X

x

6

6

IV

18

Banjar

x

X

x

6

6

IV

19

Cadasari

x

X

x

6

6

IV

20

Cigeulis

x

x

x

4

4

V

21

Cisata

x

x

x

4

4

V

22

Angsana

x

x

x

3

3

VI

23

Cimanggu

x

x

x

3

3

VI

24

Sumur

x

x

x

3

3

VI

Keterangan :

F : Fasilitas P : Penduduk A : Aksessibilitas

Sumber : Rencana tata Ruang Wilayah Kabupaten pandeglang


IV.3.2 Konsep Pengembangan Struktur Tata Ruang

Dalam rangka lebih memacu pertumbuhan wilayah kota-kota yang berfungsi sebagai pusat pelayanan dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, maka struktur yang dipersiapkan untuk tata ruang wilayah harus mampu meningkatkan pertumbuhan Kabupaten Pandeglang secara keseluruhan. Struktur tata ruang wilayah Kabupaten Pandeglang terdiri dari Pusat Pelayanan serta wilayah pelayanannya. Struktur tata ruang wilayah Kabupaten Pandeglang direncanakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek :

a . Struktur tata Ruang RTRW Propinsi Banten.

b . Kabijaksanaan spasial Pola dasar Pembangunan Kabupaten Pandeglang.

c . Hierarki kota sebagai pusat pelayanan di Kabupaten Pandeglang.

d . Peningkatan status perwakilan kecamatan menjadi kecamatan definitif.

e . Peningkatan status beberapa ruas jalan Kabupaten menjadi jalan Propinsi.

Sedangkan tujuan dari struktur tata ruang Kabupaten Pandeglang adalah :

a . Mewujudkan Kabupaten Pandeglang sebagai kawasan penunjang uatama Wilayah Barat bagi kawasan andalan utama Propinsi Banten, yang meliputi Kabupaten Serang dengan pusat pertumbuhan Bojonegara.

b . Peningkatan fungsi pusat pelayanan di wilayah Selatan Kabuapten Pandeglang.

IV.3.3 Identifikasi kawasan Prioritas

Kawasan prioritas merupakan kawasan dengan potensi/persoalan yang perlu segera ditangani. Hal ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan cepat. Jenis-jenis kawasan yang perlu diprioritaskan pengembangannya dibedakan atas :

1. Kawasan yang terbelakang (lambat berkembang) karena keterbatasan sumber daya.

2. Kawasan kritis yang perlu dipelihara fungsi lindungnya untuk menghindari kerusakan lingkungan.

3. Kawasan yang pertumbuhannya cepat.

4. Kawasan yang berperan menunjang kegiatan sektor-sektor ekonomi dan atau menunjang program pembangunan Nasional.

Identifikasi sektor-sektor prioritas yang dapat dikembangkan pada masing-masing kawasan dalam menangani kawasan prioritas perlu dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang meliputi :

1. Arah dan kebijaksanaan pembangunan.

2. Potensi dan permasalahan pembangunan daerah.

3. Prospek pengembangan ditinjau dari minat dan investasi, dengan peluang selama jangka waktu perencanaan.

Penilaian kawasan prioritas dilakukan dengan menggunakan metode pembobotan terhadap kriteria-kriteria yang mewakili kondisi dari masing-masing jenis kawasan.

IV.3.4 Rencana Pengembangan Lokasi Kawasan Agropolitan Kabupaten Pandeglang

Berdasarkan hasil analisa dari data yang didapat serta hasil studi kaji tindak, maka didapatkan lokasi yang sangat signifikan untuk kawasan agropolitan Kabupaten Pandeglang yaitu Penentuan lokasi pengembangan kawasan agropolitan didasarkan atas :

a. Arah pelayanan dan wilayah pembangunan Kabupaten Pandeglang yang terbagi dalam tiga wilayah yaitu :

i. Wilayah pelayanan dan pembangunan I meliputi :

1. Kecamatan Pandeglang

2. Kecamatan Cadasari

3. Kecamatan Banjar

4. Kecamatan Kaduhejo

5. Kecamatan Mandalawangi

6. Kecamatan Cimanuk

7. Kecamatan Cipeucang

8. Kecamatan Saketi

9. Kecamatan Cisata

ii. Wilayah pelayanan dan pembangunan II meliputi :

o Kecamatan Menes

o Kecamatan Labuan

o Kecamatan Bojong

o Kecamatan Picung

o Kecamatan Jiput

o Kecamatan Pagelaran

o Kecamatan Patia

o Kecamatan Panimbang

iii. Wilayah pelayanan dan pembangunan III meliputi :

o Kecamatan Munjul

o Kecamatan Angsana

o Kecamatan Cigeulis

o Kecamatan Cikeusik

o Kecamatan Cibaliung

o Kecamatan Cimanggu

o Kecamatan Sumur

Ditetapkannya Kecamatan Menes sebagai kawasan agropolitan oleh pemerintah pusat dan propinsi Banten telah membantu pengembangan pertanian dan agroindustri di Kabupaten Pandeglang pada arah pelayanan dan pembangunan wilayah II yang meliputi Kecamatan Labuan, Panimbang, Picung, Bojong, Patia, Jiput dan Pagelaran. Untuk kesinambungan pembangunan di wilayah Kabupaten Pandeglang maka rencana pengembangan itu direncanakan mencakup wilayah pembangunan I dan wilayah pembangunan III.



0 komentar: