KONSEP DASAR FASILITATOR
Ada anggapan bahwa pendidikan bertujuan untuk mentransfer keseluruhan pengetahuan dari satu generasi kegenerasi selanjutnya, dengan asumsi bahwa: 1) Jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk ditransfer secara kolektif dalam sistem pendidikan kita, dan 2) Kebudayaan dan masyarakat berkembang dan berubah lambat, sehingga memungkinkan seseorang untuk menyimpan dan menyampaikannya sebelum pengetahuan itu berubah.
Kedua asumsi tersebut tidak mungkin akan terjadi diera sekarang, karena sekarang kita hidup dalam era perkembangan dan perubahan, dimana pengetahuan berkembang dan berubah sangat cepat, yang menimbulkan perkembangan dan perubahan budaya masyarakat sangat cepat pula.
Kecepatan perubahan tersebut telah menimbulkan pertanyaan bahwa dari pada mentansfer lebih baik mendorong kedalam diri peserta didik pada keinginan untuk melakukan proses penemuan jati diri sepanjang hayat. Maka ada dua konsekwensi yang akan ditimbulkan, yaitu 1) Pendidikan tidak lagi sebagai kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak saja dan sesaat, 2) Tanggung jawab untuk memutuskan materi pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara guru dan murid dan berjalan terus menerus. Sehingga proses pendidikan merupakan proses yang berjalan sepanjang hayat.
Dengan demikian pendidikan tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa, Pendidikan Orang dewasa atau Andragogi[1] (andra berarti orang dewasa sedangkan gogi atau agage berarti kegiatan memimpin), sehingga pendidikan orang dewasa (Andragogi) berarti “suatu seni dan ilmu dalam membantu orang dewasa dalam belajar”, andragogi juga bisa diartikan “sebagai suatu proses pendidikan yang dapat membantu orang dewasa untuk menemukan dirinya dan menggunakannya dalam situasi untuk mendorong perkembangan seseorang, organisasi dan masyarakat”.
Falsafah pendidikan orang dewasa (andragogy) ini pada dasarnya menempatkan para peserta (paticipants) pendidikan dan latihan sebagai pusat dari seluruh kegiatan belajar dan yang paling menentukan arah serta hasil pendidikan/latihan. Akan tetapi tenaga pemandu atau fasilitator pendidikan dan latihan bertindak sebagai penyedia wahana belajar dan perangsang motivasi peserta untuk menetapkan tujuan dan cara serta capaiannya sendiri.
Tim pemandu/fasilitator secara sengaja menciptakan serangkaian proses dimana seluruh peserta dirangsang kesadarannya bahwa merekalah sesungguhnya yang paling berkepentingan dan karena itu menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap berhasil dan tidaknya pendidikan dan letihan ini. Aspek penyadaran (Conscientization) merupakan ciri utama dari pendekatan pendidikan orang dewasa.
Pendidikan orang dewasa secara sadar dirancang untuk sekaligus mencakup aspek - aspek pembentukan pengetahuan (cognitive domain) ketrampilan teknis (conative domain) dan sikap - sikap serta tindakan (affective domain). Hal ini dapat dilihat dalam proses perumusan tujuan dan ruang lingkup materi latihan serta metoda yang digunakan dalam pendidikan dan latihan orang dewasa.
Dalam pelaksanaan model pendidikan orang dewasa melibatkan seluruh peserta langsung kedalam permasalahan yang dipelajari dan merupakan masalah yang mereka rumuskan serta harus diajak memecahkan sendiri. Karena itu pendidikan dan latihan orang dewasa dilaksanakan atas dasar konsep pendidikan mempermasalahkan masalah (problem possing education), dengan sedapat mungkin menghindari sikap atau kesan “menggurui” atau konsep pendidikan model bank (bank sistem education concept).
Oleh sebab itu maka selama pendidikan dan latihan diciptakan suasana interaksi antar seluruh peserta dengan fasilitator atau pemandu latihan yang bersifat “ada dan mengalami bersama” (being and working together) antara seluruh peserta dan fasilitator. Setiap peserta dan fasilitator adalah sebagai nara sumber dan menjadi “rekan” ( co-facilitator ) bagi yang lainnya dalam merumuskan, menganalisa dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Prinsip-prinsip belajar secara andragogis meliputi bahwa orang dewasa akan belajar dengan baik apabila;
- mereka secara penuh terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar,
- materi belajar menarik dan sesuai dengan kehidupan mereka sehari - hari,
- materi pelajaran bermanfaat dan praktis,
- ada dorongan semangat dan motivasi dari luar,
- mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan, kemampuan dan ketrampilannya dalam waktu yang cukup,
- proses belajar dipengaruhi dan dibimbing oleh pengalaman - pengalaman dari warga belajar,
- antar warga belajar dan fasilitator terjadi saling pengertian yang baik sesuai dengan ciri - ciri utama orang dewasa belajar.
Ada beberapa langkah pendidikan andragogi yaitu;
- Menciptakan iklim belajar yang kondusif,
- Merencanakan pendidikan secara bersama,
- Melakukan need assesment atau penjajagan kebutuhan,
- Merumuskan tujuan pendidikan secara bersama,
- Merancang kegiatan belajar,
- Melaksanakan kegiatan belajar,
- Mengevaluasi hasil pendidikan.
METODE PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Pendidikan orang dewasa / Andragogi memiliki basis orientasi mendasar yaitu pengalaman baik pengalaman belajar maupun pengalaman hidup, semakin banyak pengalaman hidupnya maka semakin berpotensi sebagai sumber belajar, maka hidup itu sendiri adalah pengalaman pendidikan, confucious mernulis pentingnya belajar dari pengalaman dia mengingatkan bahwa belajar dari pengalaman mendasarkan pada ;
“Saya dengar dan saya lupa”
“Saya lihat dan saya ingat”
“Saya kerja dan saya paham”
Kalau kita percaya bahwa pengalaman sebagai sumber belajar, maka berarti lingkungan kehidupan manusia merupakan sumber belajar yang potensial pula. Akan tetapi ada lingkungan dan suasana serta iklim tertentu yang memudahkan kegiatan belajar orang dewasa misalnya menyenangkan, humor, antusias, bergembira, dan kebebasan.
Disisi lain pendidikan orang dewasa juga sangat terkait dan tidak bisa dipisahkan dengan realitas ( masalah ) yang dihadapi oleh peserta didik, karena basis pendidikan ini adalah realitas masyarakat baik realitas sosial, ekonomi, politik dan budaya. Oleh sebab itu pendidikan orang dewasa memiliki ketergantungan pada pengalaman - pengalaman belajar dan realitas , maka menuntut tingkat keikutan sertaan yang tinggi dari para pesertanya, maka metode belajar yang tepat antara lain adalah;
1. Pengalaman berstuktur (structured experience), untuk itu pengalaman berstruktur patut kita pelajari, untuk memperkaya khasanah kemampuan kita dalam melaksakan kegiatan -kegiatan belajar orang dewasa. Disamping itu karena seseorang yang telah dewasa sangat kaya akan berbagai pengalaman hidup dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu wadah kosong, maka penggunanaan metode pengalaman berstruktur dapat diharapkan akan lebih berdayaguna, karena akan merangsang mereka yang sedang belajar untuk mengolah pengalamannya sendiri dan kemudian menarik pelajaran dari sana . Lagi pula, penggunaan metode ini menunjukkan adanya rasa hormat pada harkat kemanusiaan mereka yang memang kaya akan pengalaman itu.
Pengalaman berstruktur dirancang untuk menterapkan sesuatu atas dasar pengalaman nyata dalam suatu daur proses belajar yang terdiri dari lima prosedur atau tahapan yang berbeda namun tetap saling berkaitan satu sama lain.Seperti dikesankan oleh namanya, model ini memberikan penekanan terutama pada pengalaman - pengalaman langsung dan nyata dari para peserta atau warga belajar, berlawanan dengan pengalaman - pengalaman semu yang diperoleh melalui pendekatan atau cara yang bersifat didaktis.
Model atau metode ini juga merupakan suatu proses induktif dimana peserta atau warga belajar menemukan sendiri isi atau ajaran yang ditawarkan atau disediakan oleh pengalamannya, penemuanya itu dapat dirangsang atau dibimbing oleh para pembimbing, namun pada akhirnya para peserta atau warga belajar sendirilah yang menemukan atau mengolah pengalamannya. Inilah yang kita sebut sebagai; Laboratorium atau pengalaman dalam suatu proses belajar .
Model ini didasarkan pada asumsi bahwa pengalaman mendahului proses belajar dan bahwa ajaran atau isi dan makna sesuatu harus berasal dari pengalaman apapun yang dimiliki oleh para warga belajar sendiri, setiap orang pada dasarnya memiliki pengalaman - pengalaman yang khas dan tidak ada orang lain yang menuntutnya untuk menarik pelajaran tertentu dari suatu pengalaman kegiatan dari mana ia akan menarik suatu pelajaran .Namun, para warga belajar sendirilah yang akan menentukan apa yang ingin mereka pelajari.
Lima prosedur atau tahapan langkah metode pengalaman berstruktur ini adalah sbb :
a. Mengalami.
Proses ini selalu dimulai dengan adanya pengalaman dengan melakukan langsung suatu kegiatan. Disini peserta dilibatkan dan bertindak atau berprilaku mengikuti suatu pola tertentu. Apa yang dilakukan dan dialaminya adalah mengerjakan, mengamati, melihat, atau mengatakan sesuatu. Pengalaman inilah yang menjadi titik tolak proses berikutnya.
b. Mengungkapkan ;
Setelah pengalaman itu sendiri makna yang penting bagi para peserta adalah mengungkapkan dengan mengatakan kembali apa yang sudah dialaminya dan tanggapan atau kesan mereka atas pengalaman tersebut, termasuk pengalaman rekan - rekannya sesama peserta / warga belajar.
c. Mengolah ;
Peserta kemudian mengkaji semua ungkapan pengalaman tersebut, pengalamannya sendiri atau pengalaman rekan - rekannya, kemudian mengkaitkannya dengan pengalaman lain yang mungkin mengandung ajaran atau makna yang serupa .
d. Menyimpulkan ;
Kelanjutan logis dari pengkajian pengalaman tersebut adalah keharusan untuk mengembangkan atau merumuskan prinsip - prinsip berupa kesimpulan umum (generalisasi) dari pengalaman tadi. Menyatakan apa apa yang telah dialami dan telah dipelajari dengan cara seperti ini akan membantu para peserta untuk merumuskan, memperinci dan memperjelas hal - hal yang telah dipelajari .
e. Menterapkan ;
Langkah terakhir dalam daur ini adalah perencanan untuk penterapan prinsip - prinsip yang telah disimpulkan dari pengalaman sebelumnya. Proses pengalaman ini belumlah lengkap sebelum ajaran baru atau penemuan baru di pergunakan dan diuji dalam prilaku yang sesungguhnya. Inilah bagian yang bersifat eksperimental dalam model ini. Tentu saja, penerapan ini akan menjadi suatu pengalaman tersendiri pula dan dengan pengalaman baru tersebut, daur proses inipun dimulai lagi.
Pengalaman berstuktur yang dirancang untuk memusatkan perhatian pada perilaku perorangan, umpan balik yang yang konstruktif, pengolahan dan intregarasi psikologis, sangat beraneka ragam dan tidak tetap. Pengalaman berstruktur ini dengan mudah dapat disesuaikan dengan kebutuhan - kebutuhan khusus suatu kelompok, dengan tujuan merancang latihan secara keseluruhan, atau ketrampilan - ketrampilan khusus yang dimiliki oleh pemandu latihan yang dalam hal ini disebut fasilitator . Karena seorang pemandu latihan pada dasarnya adalah seorang penemu (inventor) maka dapat diharapkan bahwa pengalaman berstruktur yang didapatkanya dari suatu sumber tertentu pasti akan disesuaikannya dengan keadaan tertentu pasti akan disesuaikannya dengan keadaan tertentu pula dalam penerapannya.
2. Problem Possing ( Mempermasalah masalah), sebagaimana diatas dijelaskan bahwa pendidikan orang dewasa dimulai dengan membahas realitas atau masalah yang peserta didik hadapi, maka metode mempermasalahkan masalah adalah satu pilihan yang tidak boleh ditinggalkan, dimana suatu pendidikan dilakukan berdasarkan masalah yang dihadapi oleh peserta didik, dan mereka diajak untuk mempermasalahkan masalah tersebut untuk menemukan tema-tema generatif/simpul-simpul masalah.
Dalam mempermasalahkan masalah pertama yang harus siketahui adalah realitas atau masalah apa yang dihadapi, berarti peserta didik diajak mengidentifikasi masalah yang dihadapi, kemudian masalah dipilah - pilah sampai menemukan tema - tema generatif (simpul) masalahnya, pertanyaan - pertanyaan kunci yang biasa dipakai untuk mendapatkan masalah yang akurat adalah apa dan bagaimana?, kedua peserta didik diajak menganalisa tema - tema generatif (simpul), pertanyaan kunci yang baisa dipakai untuk membedah simpul masalah adalah mengapa?, ketiga peserta didik diajak mempersoalkan dan memusyawarahkan kenyataan hidup mereka, dalam proses ini biasanya yang paling efektif dilakukan dalam focus group discusion atau kelompok - kelompok kecil ( 4 - 5 orang ) warga belajar setiap kelompok atau groupnya, keempat peserta didik terbiasa mendiskusikan kaitan antar simpul masalah, baik secara individu maupun kelompok, kelima peserta didik diajak mencari sumber - sumber penyebab dari simpul masalah tersebut, ada tiga penyebab untuk mendapatkan yang benar - benar sumber yaitu sebab kelaziman, sosial dan politik, keenam rencana aksi dimana peserta diajak menyusun sebuah rancangan aksi berdasarkan analisis sebelumnya.
PERAN DAN CIRI UTAMA FASILITATOR DIKMUS
Dalam konsepsi pendidikan tradisional dikenal “suhu”, dia adalah orang yang berperan mengajarkan tentang kebaikan dan ilmu kanuragan kepada murid atau cantriknya, dalam kosep pendidikan kita dikenal guru, dimana dia adalah orang yang berperan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada muridnya, dalam konsepsi pendidikan pesantren ada Kiyahi yang berperan mengajarkan ilmu agama dan memberi ketauladanan pada santrinya. Akan tetapi dalam konsepsi pendidikan orang dewasa sering kita kenal fasilitator / pemandu / pelatih yaitu orang yang bertugas untuk mengaduk pengalaman yang peserta didik miliki “ ibarat sebuah gelas peserta didik adalah gelas yang sudah berisi dan fasilitator adalah sendoknya”, karena asumsinya pada pendidikan orang dewasa setiap orang yang mengikuti pendidikan dan pelatihan adalah orang yang sudah memiliki pengalaman hidup.
Karena Fasilitator juga bagian dari pendidikan tersebut, maka peran fasilitator adalah;
1. Memperlancar jalanya pendidikan,
2. Memberikan kemudahan agar setiap warga belajar merupakan sumber belajar yang efektif untuk lainnya,
3. Merupakan pengembang utama sumber daya manusiawi,
4. Mendorong warga belajar untuk menolong dirinya sendiri dan yang lainnya.
5. Menciptakan suasana yang menarik, sehingga tidak timbul kejenuhan dan kebosanan pada peserta didik,
Sedangkan syarat utama pelatih/fasilitator adalah;
1) Memiliki konsep diri yang sehat dan terintegrasi dengan baik,
2) Kemampuan emphati pada warga belajar,
3) Memiliki sikap dan komitmen yang tinggi pada warga belajr,
4) Kemauan dan kemampuan untuk menghadapi resiko yang akan dihadapi secara pribadi,
5) Mampu mengatasi tekanan emosional yang erat hubungannya dengan kemampuan menghadapi resiko - resiko,
6) Memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan misalnya;
a) Memiliki pengetahuan tentang filsafat pendidikan dan sedikit psikologi masa,
b) Memiliki kemampuan menciptakan situasi dan lingkungan dimana orang terangsang memperoleh sesuatu dan menghilangkan kejenuhan serta kebosanan,
c) Cakap dalam menggunakan alat peraga, sehingga memperlancar proses belajar mengajar,
d) Memiliki informasi yang cukup tentang isi pelatihan atau pendidikan,
e) Menguasai metodologi pendidikan orang dewasa.
f) Menguasai teknik - teknik bertanya
7) Memiliki wawasan yang cukup tentang rakyat
PERBEDAAN FASILITATOR DENGAN GURU DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA / DIKMUS
Karena Dikmus adalah merupakan pendidikan orang dewasa dan berjalan tanpa dibatasi ruang dan waktu dan terus menerus atau berkelanjutan, maka ada peran yang dilakukan oleh orang yang bukan peserta didik, yaitu peran memperlancar atau memberi kemudahan pada warga belajar peran itu biasa disebut fasilitator atau pemandu. Lain halnya dengan pendidikan pada umumnya atau pendidikan model klas, disana ada peran guru yang berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan pada anak yang masih kosong, sehingga ada perbedaan mendasar antara fasilitator dan guru misalnya;
PERBEDAAN GURU DAN FASILITATOR
| NO | ISSUE | GURU | FASILITATOR |
| 1 | Tujuan | Murid menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan | Warga belajar menguasai ilmu pengetahuan dan dapat memecah masalah berdasarkan realitas yang dihadapi |
| 2 | Hasil | Dikuasainya ilmu pengetahuan yang diajarkan | Mampu melakukan sesuatu berdasarkan masalah yang dihadapi. |
| 3 | Tugas | Memberi pelajaran | Memandu dan memfasilitasi warga belajar |
| 4 | Orientasi | Murid diperlakukan sebagai obyek belajar, sedangkan guru sebagai subyek belajar | Warga belajar sebaga subyek (co - subject) belajar, sedangkan obyeknya adalah realitas atau kenyataan yang dihadapi oleh warga belajar. |
| 5 | Modus kerja | Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid | Mengajukan pertanyaan - pertanyaan kritis pada warga belajar |
| 6 | Metode yang digunakan | Ceramah, kuliah, memberi nasehat, memberi ujian dll | Dialog, diskusi, brainstorming, problem possing, pengalaman berstruktur, simulasi dan lain - lain yang partisipatif. |
| 7 | Bentuk motivasi | Memberi kewajiban - kewajiban | Memberi dorongan atau rangsangan - rangsangan |
| 8 | Materi | Teks book | Realitas dan pengalaman warga belajar |
| 9 | Sumber belajar | Ada pada guru | Ada pada warga belajar |
| 10 | Sistem pendekatan | Pedagogi | Andeagogi |
| 11 | Penilaiannya | Evaluasi belajar periodik dengan test tertulis maupun lisan yang dibuat oleh guru | Evaluasi secara partisipatif dan Refleksi yang melibatkan semua unsur pendidikan. |