Selasa, 30 Desember 2008

BPS Pandeglang Data Usaha Tani

PANDEGLANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Pandeglang mulai melakukan tahapan pendataan usaha tani (PUT).


Kegiatan yang pertama adalah melakukan sosialisasi kepada sejumlah elemen masyarakat seperti kelompok tani, instansi pemerintahan, LSM, TNI, Polri, dan lain-lain, di Gedung PKPRI Pandeglang, Rabu (24/12).

Kepala BPS Pandeglang Syarif Hidayat mengatakan, pendataan ini penting dilakukan untuk mengetahui jumlah petani yang ada di Pandeglang. “Yang akan didata adalah hanya petani yang menggeluti empat bidang yakni padi, jagung, kedelai, dan tebu. Bukan hanya itu, pendataan juga dititikberatkan terhadap luas lahan yang dimiliki petani,” ujar Syarif.

Dijelaskan, setelah terkumpul data akan diserahkan kepada Menko Perekonomian di Jakarta. Ia mengaku, sebenarnya BPS sudah punya PUT tahun 2003 tetapi harus direvisi karena banyak lahan petani yag berkurang dan petani yang beralih profesi. Berdasarkan data tahun 2003 itu terdapat 123.000 petani yang menggeluti empat bidang di atas. Tetapi petani tebu di Pandeglang tampaknya saat ini sudah tidak ada lagi. “Nantinya data ini digunakan untuk kebijakan pemerintah seperti pupuk bersubsidi, bantuan bibit dan lain-lain. Makanya pendataan ini harus benar-benar objektif,” katanya.

Awal Februari, kata Syarif, pihaknya akan melakukan pelatihan terhadap petugas yang akan melakukan pendataan baik di tingkat kecamatan maupun desa. “Kami dari BPS sudah memiliki jaringan sampai ke tingkat desa. Jaringan ini yang digunakan BPS untuk mendata petani di masing-masing desa,” terangnya.

Terpisah, Anggotra Fraksi Amanat Kebangkitan Demokrasi (FAKD) DPRD Pandeglang Akhsan Sukroni mengingatkan agar BPS bekerja optimal dan objektif. “Jangan sampai ada petani yang tidak terdata sehingga memunculkan masalah di kemudian hari. Ini yang harus diperhatikan,” tegasnya.

Data Pemilih Banten Pemilu 2009

KPU kabupaten/kota telah merampungkan pendataan pemilih di masing-masing wilayah untuk Pemilu 2009 yang akan digelar 9 April 2009. Berdasarkan pendataan tersebut, diperoleh jumlah pemilih sementara di Provinsi Banten untuk Pemilu 2009 mencapai 6.377.354 orang.


Pokja Pendataan Pemilih KPU Banten Didih M Sudi mengungkapkan, secara rinci data pemilih sementara di masing-masing daerah kabupaten/kota adalah, Kabupaten Serang sebanyak 850.403 pemilih, Kota Serang 338.998 pemilih, Kota Cilegon 235.191 pemilih,

Kabupaten Tangerang 2.363.679 pemilih, Kota Tangerang 972.207 pemilih, Kabupaten Lebak 820.771 pemilih, dan Kabupaten Pandeglang 796.105 pemilih. “Ini data sementara, kemungkinan bertambah, atau mungkin berkurang,” terang Didih.


Pada bagian lain, KPU kabupaten/kota juga telah menghitung jumlah kebutuhan tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing wilayah. Didih menerangkan, rincian usulan kebutuhan TPS, yakni, di Kabupaten Serang 2.263 TPS, Kota Serang 888 TPS, Kota Cilegon 560 TPS, Kabupaten Tangerang 5.686 TPS, Kota Tangerang 2.273 TPS, Kabupaten Lebak 2.367 TPS, dan Kabupaten Pandeglang 2.154 TPS. “Jumlah keseluruhan 16.191 TPS,” papar Didih.

Senin, 22 Desember 2008

ngopi ala Ujung Kulon

Ngopi ? sapaan hangat setiap kepada tiap orang yang berlalu didepan rumah. Sambil membuka obrolan, Abah Suhaya memainkan tangan terampilnya melinting tembakau. Sesekali melihat Ambu - panggilan untuk istri Abah Suhaya - yang sedang menyapu sampah daun-daunan dihalaman rumah. Duduk bersila di amben (bale-bale) kami mulai membincangkan persiapan perkumpulan kampung untuk membahas agenda organisasi perjuangan (Serikat Tani Ujung Kulon). Tak berapa lama Ambu datang membawa seperangkat kebutuhan penyegar tubuh pagi hari, apalagi kalau bukan Kopi...


Termos air, gelas, gula dan kopi. Khusus untuk Ambu sendiri, Ia membawa wadah berisi bahan-bahan untuk nyeupah (nginang).

Kopi yang disuguhkan langsung saja kami tindak-lanjuti. Ngopi di Ujung Kulon tidak usah khawatir gigi kita jadi hitam karena ampas kopi, atau harus sibuk-sibuk menyaring ampas kopi digelas kopi kita, kopi disini tak memberikan resiko itu. Mau tahu kenapa ? karena kopi disini proses panennya sudah dibantu oleh careuh (luwak), benar sekali, kopi disini berasal dari biji-biji kopi sisa makan luwak yang banyak tersebar di kebun-kebun kopi masyarakat. Menurut beberapa referensi kopi dari sisa makan rubah adalah kopi yang baik dan mahal harganya dipasaran.

Kopi disini adalah kopi jenis Arabica, sangat mungkin organic. Karena tidak pernah menggunakan pupuk-pestisida kimia dalam perawatan pohonnya. Mungkin karena kopi menjadi kebutuhan yang begitu penting, hampir setiap keluarga mempunyai kebun kopi walau tidak luas.

Tanaman kopi berbunga sekitar akhir bulan maret hingga akhir bulan september, bunga akan tumbuh selama sekitar 6-7 bulan yang kemudian menjadi buah kopi. Biji buah kopi yang hijau lama-kelamaan akan berubah menjadi warna merah dan siap dipetik. Saat berwarna merah itulah luwak atau careuh senang ngemil buah kopi, tetapi tidak pernah sampai habis dimakan, hanya sedikit lalu dibuang. Naah...biji kopi yang berjatuhan sisa makan rubah itu diambil dan di keringkan oleh pemilik kebun, "karena sayang kalau tidak diambil" kata petani di Ujung Kulon. Dan ternyata kopi seperti itu memberikan rasa yang khas, harum dan tidak ber ampas. Wow...mari kita ngopi lagi,,,