Sabtu, 07 Februari 2009

Korban Gizi Buruk di Pandeglang

Penderita Gizi Buruk Terkulai Lemas

Jumat, 06-Februari-2009


PANDEGLANG - Kabar soal gizi buruk tampaknya tak akan habisnya di Pandeglang.

Fitriyani (6 thn), bocah asal RT 02/06, Desa/Kecamatan Jiput terkulai lemah di rumahnya karena sejak berusia 10 bulan menderita gizi buruk. Putri keempat pasangan Otoh Suryadi (41) dan Suebah (37) ini sudah dibawa ke rumah sakit dan tempat lainnya, tapi tetap saja tak kunjung sembuh. Di usianya itu, Fitriyani hanya memiliki berat 8 kilogram. Padahal, untuk anak seusianya, seharusnya memiliki berat badan ideal minimal 15 kilogram. Kini pihak keluarga membutuhkan uluran tangan dermawan untuk proses penyembuhan.


Otoh mengatakan, pada saat lahir anaknya dalam kondisi sehat. Tapi sejak usia 10 bulan anaknya mengidap panas tinggi dan dibawa berobat ke RSUD Pandeglang. “Anak saya lahir melalui persalinan normal dengan bantuan bidan desa. Kemudian pada usia 10 bulan, berat badan anak saya menurun. Tetapi saat itu masih mau makan dan minum. Ketika diberi air minum teh manis sering timbul bintik-bintik merah di badannya,” ujarnya.


Diakui Otoh, anaknya cocok minum susu. Tapi karena harganya tinggi, dirinya tak bisa setiap saat mampu membelinya. Apalagi pekerjaannya tak menentu karena hanya sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Sementara selain biaya makan sehari-hari, ia juga harus membiayai anaknya yang sekolah di SMPN 1 Jiput. “Saya bekerja sehari, tapi dua atau tiga harinya tidak bekerja,” ucapnya.


Diceritakan, setelah berat badan anaknya mulai berkurang, proses pertumbuhan juga lamban dibandingkan anak seusianya. Awalnya Fitriyani sering sakit-sakitan selama tiga bulan. “Sekarang tidak sakit panas lagi tetapi selalu nangis bila ingn makan dan minum susu. Kini, kondisi badan Fitriyani hanya tinggal tulang dibalut kulit,” terangnya.


Kondisi badan Fitriyani sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, kakinya tingal tulang saja, jemarinya pun saling melintang saat mengepal. Otoh dan istrinya sudah beberapa kali membawa putrinya ke puskesmas dan rumah sakit. “Selama ini Fitriyani tidak bisa bicara, kecuali nangis saja,” ujarnya, seraya menambahkan pihaknya membutuhkan bantuan dari Pemkab dan donatur. (radar banten)

0 komentar: