Senin, 30 Maret 2009

Langkah-Langkah Dalam Membangun Organisasi Rakyat

Langkah I:

Integrasi

Langkah pertama dan utama dalam pengorganisasian rakyat adalh integrasi atau menyatu dengan yang miskin dalam masyarakat mereka. “Organisasi” harus berusaha melebur dirinya dalam masyarakat yang miskin untuk mengetahui budaya, ekonomi, pemimpin, sejarah, irama, dan gaya kehidupan dari masyarakat tersebut. Mereka mengunjungi orang-orang, terlibat dalam pembicaraan kecil, mengambil bagian dalam kegiatan mereka (umpamanya menumbuk padi), ikut terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok tidak resmi, tinggal bersama mereka dan merasakan apa yang mereka makan, apa yang jadi hiburan mereka dan ikut dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Ini bukanlah hal yang gampang, ujar seorang organiser;

Selama empat bulan saya tidak mampu merasakan makanan mereka atau baunya. Saya melihat keadaan yang sebenarnya dari pergumulan mereka, bagaimana rasanya menjadi miskin yang dari hari kehari berjuang untuk hidup. Dan apa artinya memperjuangkan tanah dan kemenangan-kemenangan yang mereka peroleh, juga frustrasi-frustrasi seperti yang mereka alami dan lihat sendiri. Saya melihat kehidupan kaum miskin seperti apa yang mereka sendiri lihat. Saya belajar mempergunakan bahasa mereka yang sederhana, mempelajari sampai hal-hal terkecil dari kehidupan mereka yakni yang memyebabkan persoalan mereka bertahan hidup “.

Dalam proses integrasi ini, beberapa hal akan dialami oleh seorang organiser :

  1. Menghargai rakyat dan melihat aspek pembebasan dari budaya mereka yang mampu memberikan mereka kekuatan berjuang. Apa yang dinamakan kebudayaan bisu Cuma abstrak dari para sosiolog. Kaum miskin sesunggunya ulet, tekun dan penuh dengan etikad baik. Mereka juga memiliki seluruh kelemahan dari manusia yang lain.
  2. Harus melihat, bagaimana analisa sosial yang mungkin ia lakukan mengenai situasi nasional, bisa menyatu dalam kehidupan rakyat. Ia harus bisa melihat seberapa jauh analisa sosial tersebut benar atau tidak. Ia harus bisa belajar dari kenyataan bahwa juga analisa sosial Cuma sebuah abstraksi. Kenyataan jauh lebih padat dan rumit.
  3. Harus berusaha melihat atau merasakan tindakan Tuhan di antara mereka yang miskin, lantaran kaum miskin mendapat tempat istimewa dalam pekerjaan Tuhan.
  4. Pada akhirnya, harus bisa diterima sebagai warga dari masyarakat tersebut.
  5. Akhirnya nilai-nilai serta gaya hidup sang organiser harus berubah. Ia harus menjadi lebih berpengertian dan toleran, lebih penuh penyerahan diri, lebih realistis dan menjadi miskin sebisanya.

Untuk berintegrasi dengan baik, pada permulaan latihan mereka harus hidup dilingkungan masyarakat desa atau kota yang miskin selama enam bulan di rumah yang sederhana dan makan apa yang dimakan oleh rakyat miskin.

Integrasi memberikan jaminan bahwa keprihatinan seseorang untuk merubah sebuah masyarakat, sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat mengenai sebuah perubahan dan bukan menurut contoh-contoh teoritis atau ideologi atau agama. Integrasi merupakan dasar dari langkah-langkah yang lain. Jikalau para organiser tidak menyatu dengan rakyat, tidak akan pernah mempelajari demensi yang sesungguhnya dari persoalan rakyat atau bagaimana merangsang mereka untuk berubah.


Langkah II:

Penyidikan Sosial

Penyidikan adalah sebuah proses yang sistematis mencari masalah-masalah, di sekeliling makna masyarakat diorganisir. Sang organiser larut dalam masyarakat, mencari permasalahan-permasalahan yang sangat dirasakan rakyat untuk diperkembangkan sehingga mereka mau bertindak.

Mencari soal-soal yang kongkrit, seperti masalah air dan kakus yang memang merupakan masalah yang objektif ( yang tak pelak lagi, untuk rakyat setempat maupun pendatang ) dan yang dirasakan sebagai masalah oleh rakyat. Kedua hal ini tidak semuanya sama.

Bagaimana melakukan penyidikan sosial? Secara umum ada 3 (Tiga) cara, yaitu:

Pertama, mempelajari catatan dan laporan yang membicarakan permasalahan rakyat. Kedua, adalah belajar dari rakyat itu sendiri bagaimana mereka merasakan sebuah permasalahan, bagaimana mereka melihat rincian sebuah permasalahan, komplikasi (kaitan) serta maknanya. Dan ketiga, adalah mempelajari sebuah permasalahan sebagaimana yang ditentukan oleh bangunan kekuasaan dari masyarakat tersebut, seperti mempelajari bagaimana para pimpinan masyarakat terikat pada sebuah permasalahan.


Langkah III :

Program Percobaan/Sementara

Organiser tidak boleh mempunyai gagasan yang sudah direka sebelumnya tentang masalah yang dianggap benar untuk digarap. Senantiasa harus waspada dan berusaha menemukan tahapan-tahapan dasar dari kerumitan dalam permasalahan. Dan akhirnya, harus memilih salah satu saja persoalan untuk ditangani. Beberapa organiser terus-menerus mempelajari permasalahan-permasalahan dan tidak pernah menangani sebuah persoalanpun. Pada beberapa titik, harus memulai dan percaya bahwa sebagai akibat dari aksi akan memperoleh informasi lebih lanjut.

Persoalan yang akan ditanggulangi haruslah:

1. Mempengaruhi banyak orang merupakan hal pokok dalam pengorganisasian untuk melibatkan jumlah orang yang banyak.

2. Orang-orang harus cukup terlibat dengan persoalan yang diajukan. Misalnya mereka harus mengajukan keberatan atas persoalan tersebut dalam beberapa hal pada organiser.

3. Haruslah sesuatu yang bisa dimenangkan, yaitu bahwa rakyat harus memilikki peluang untuk memperoleh apa yang mereka inginkan secepatnya. Pada pihak lain, tidak boleh menjadi perjuangan yang sia-sia, seperti misalnya rencana untuk menghapuskan perusahaan-perusahaan multinasional.

4. Tindakan yang diambil atas sebuah persoalan harus bisa menarik minat orang lain untuk ikut bergabung. Sekutu sangat diperlukan pada setiap tahapan kerja organiser.

5. Jikalau mungkin, persoalan dipilih yang menarik dan dramatis. Hal ini bisa menciptakan daya tarik yang lebih luas dalam pengorganisasian.

6. Persoalan yang dipilih harus bisa berkembang ke persoalan yang lebih jauh lagi. Misalnya seorang organiser harus bisa melihat bahwa aksi mengenai air kran akan berkembang menjadi ke kelompok pemakai kecil yang kemudian akan melawan pimpinan tradisional mereka yang jadi boneka penguasa.

Langkah IV :

Landasan Kerja

Landasan kerja berarti berjalan berkeliling dan menggerakkan rakyat berdasarkan hubungan orang per orang untuk melakukan sesuatu terhadap persoalan air kran atau persoalan apa saja yang dipilih. Ini disebut juga aditasi. Beberapa segi dari rangsangan (motivasi) atau agitasi ini yang bisa dipergunakan adalah kepentingan pribadi, moralitas, hak-hak, kehormatan atau rasa malu dan amarah.

Ketika berkeliling para organiser juga mulai membicarakan tentang sebuah pertemuan umum dimana lebih banyak orang akan hadir untuk membahas dan aksi lebih lanjut. Misalnya dapat menganjurkan sebuah pertemuan yang akan membahas kemungkinan rakyat beramai-ramai ke balai kota untuk menuntut air kran. Dengan orang –orang yang ia temui, seorang organiser hendaknya membahas pendapat yang setuju dan tidak terhadap aksi ini.

Ia harus mampu membuat orang-orang mau melakukan sesuatu, dan bersikap -- siap menghadiri sebuah pertemuan pada waktu tertentu untuk menyepakati bentuk-bentuk kegiatan tertentu.

Terkadang dalam usaha agitasi, kita mempergunakan pokok-pokok yang akrab dengan budaya dan agama masyarakat tersebut. Kita tidak boleh mempergunakan apa saja dari budaya atau agama dalam hal agitasi ini, yang kita sendiri tidak yakini atau hormati, sedikitnya pada tingkat yang lebih dalam. Kita harus percaya bahwa tak ada satupun dalam kebudayaan yang memang benar-benar baik yang dengan begitu bertentangan degngan rakyat. Kalau kita tidak percaya pada hal-hal yang kita pergunakan dalam agitasi kita, kita berarti memanipulasi rakyat dan seakan-akan telah melakukan hal-hal yang suci ini puncak dari keangkuhan.


Langkah V:

Rapat

Pada rapat umum rakyat mengesahkan secara bersama-sama, apa yang sudah mereka putuskan sendiri secara perorangan, juga sampai kini segala sesuatu masih bersifat perorangan. Pertemuan memberikan rasa kekuatan dan kepercayaan bersama, hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Mereka belajar satu sama lain mengenai keyakinan dan motivasi. Pertemuan itu juga memperinci kapan pergi ke Balai Kota, berapa banyak yang ikut dan sebagainya.

Rencana ini juga buat pembagian tugas, seperti misalnya; Siapa membawa poster, Siapa mengurus ijin. Gerakan haruslah direncana secara matang dan terinci.

Bilamana landasan kerja digarap dengan baik, pertemuan akan berjalan dengan lancar. Sebagai contoh, ada seseorang yang berbicara dalam pertemuan tersebut. Kenapa kita tidak menuntut Kepala Desa kita dalam menyelesaikan persoalan ini? Maka orang–orang yang hadir pada pertemuan akan menjawab; “ Tidak, kita telah memutuskan menangani sendiri persoalan ini. Kepala desa sudah diberi waktu bertahun-tahun untuk melakukan sesuatu ”.

Seandainya polisi atau penguasa keamanan datang, maka rakyat bisa mempertahankan hak-hak mereka jika mengadakan pertemuan semacam itu.


Langkah VI:

Bermain Peran

Bermain peran berarti memerankan sesuatu pertemuan yang mungkin terjadi antara pimpinan rakyat dengan wakil pemerintah. Para pemimpin memerankan peranan mereka sendiri sementara beberapa orang bertindak seakan orang pemerintah, lalu menjawabsebagaimana yang mereka pikirkan, Bagaimana orang pemerintah akan menjawab. Ini merupakan cara melatih orang-orang untuk bersikap-siap menghadapi apa yang bakal terjadi dan melengkapiu diri mereka. Akan lucu dan sangat menyenangkan melihat Bagaimana rakyat miskin meniru tingkah laku para oknum yang berkuasa. Permainan peran merupakan metode yang bagus untuk memperkembangkan suatu kesadaran/naluri bereaksi langsung ditempat. Organiser bisa melibatkan diri dengan memberikan petunjuk-petunjuk dari waktu ke waktu.

Keuntungan utama dari bermain peran dibandingkan dengan metode persiapan yang lain ialah, karena sifatnya sendiri, metode ini melibatkan emosi rakyat seperti juga pemikiran mereka, dan mereka bisa melibatkan diri dengan penuh semangat. Tidak begitu sukar melakukannya, jadi bisa merupakan cara yang menyenangkan untuk meninjau persoalan dan aspek-aspek permasalahan. Bermain peran memungkinkan terciptanya suasana perlawanan yang rakyat harus dibiasakan merasakannya.


Langkah VII:

Mobilisasi atau Aksi

Mobilisasi atauaksi merupakan pengalaman sesungguhnya dari rakyat menghadapi yang berkuasa dan merupakan penampilan yang sungguh-sungguh dari kekuatan rakyat.

Bentuk perlawanan dari mobilisasi amat dibutuhkan. Rasa percaya diri dan harga diri rakyat terbenam dalam penindasan yang berabad-abad. Perlawanan atau konfrontasi merupakan cara yang baik untuk menerobos Keadaan ini. Argumentasi yang baik secara menakjubkan bisa membangun rasa persamaan hak rakyat.

Bentuk-bentuk aksi yang Bagaimana? Beberapa hal yang menarik dari berorganisasi terletak pada taktik ini. Taktik haruslah berada di dalam jangkauan pengalamam rakyat tetapi diluar pengalaman penguasa.

Sebuah pabrik di India mencemarkan sebuah lingkungan, misalnya rakyat memutuskan mendatangi pejabat yang bertanggung jawab sehari-sehari dengan membawakan kantong-kantong kotoran pabrik yang mencemarkan rumah mereka dan meletakkan di atas mejanya


Langkah VIII:

Evaluasi

Sesudah aksi, rakyat berkumpul dan membuat penilaian apa yang terjadi baik atau buruk. Ini sesungguhnya merupakan peninjauan atas langkah-langkah satu sampai tujuh.

Aksi merupakan bahan mentah untuk penilaian. Beberapa dari pertanyaan yang harus dijawab adalah: - Apakah persiapan kita cukup matang? - Apakah kita bertemu dengan orang yang tepat? - Apakah kita memerlukan ijin untuk bergerak? - Apakah gerakan kita tertib? - Apakah kita tepat pada waktunya? - Apakah tuntutan kita jelas dan masuk akal? - Apakah kita cukup memilikki orang-orang? - Apakah kita menilai kekuatan kita secara berlebihan? Dan masih banyak pertanyaan yang muncul sesuai dengan gerakan dan isu yang kita bawah.

Langkah IX:

Refleksi

Secara teoritis, refleksi bisa merupakan bagian dari Evaluasi, tetapi dalam pelaksanaannya adalah lebih baik dipisahkan, karena menyangkut keprihatinan-keprihatinan yang sedang berlangsung secara lebih dalam dan mungkin memerlukan suasana yang lebih tenang. Refleksi merupakan saat untuk melihat nilai-nilai positif yang sedang kita upayakan dibangun dalam Organisasi. Juga bersangkut-paut dengan soal pengorbanan, pembangunan masyarakat, peranan pemimpin dan kekuasaan, harkat kemerdekaan dan demokrasi. Seringkali sangat berguna bila mempergunakan kitab-kitab suci dari berbagai agama yang berbeda dalam diskusi-diskusi ini.

Ini juga merupakan saatnya mengadakan analisa sosial apa pun yang mungkin diperlukan rakyat untuk mengerti pengalaman yang baru mereka lewati. Analisa sosial haruslah didasarkan pada pengalaman rakyat dalam menjawab pertanyaan mereka. Tidak boleh merupakan sebuah traktat tentang sosialisme atau otupia beberapa organiser.

Terpenting bahwa sang organiser mempergunakan metode tanya jawab untuk mengelakkan persamaannya dengan cara cuci otak.

Sebagai contoh, sang organiser bisa bertanya kepada rakyat; “Kenapa pejabat pemerintah begitu sombong? Jawaban sebagian besar rakyat mungkin akan keluar ungkapan sesuatu seperti ini:“Ia menyangka kami penjahat” atau “Ia melihat kami cuma gelandangan miskin”. Organiser dengan bertanya lebih jauh bisa membantu rakyat melihat betapa dalam benak kaum penguasa, nilai dari manusia dikaitkan dengan uang, dan menunjukkan betapa hal ini merupakan kesimpulan yang wajar di dalam masyarakat atau budaya bahwa dimana mengejar keuntungan memperoleh prioritas tertinggi. Dengan begitu bisa membantu mereka melihat potensi merendahkan martabat manusia pada kapitalisme.

Lebih jauh ia bisa membantu rakyat mendiskusikan alternatif skala nilai dalam mempertimbangkan nilai-nilai atau pun norma-norma yang hidup di tengah rakyat.


Langkah X:

Organisasi

Organisasi rakyat adalah hasil dari banyak aksi rakyat yang bersamaan. Secara bertahap kelompok-kelompok rakyat yang telah ber-aksi bisa berkumpul bersama-sama, memilih pemimpin-pemimpin mereka dan membentuk Organisasi mereka sendiri-sendiri.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari Organisasi rakyat yang diupayakan untuk diperkembangkan:

1. Merupakan Organisasi dari berbagai Organisasi kecil; bukan perorangan.

2. Memiliki struktur internal untuk membantu rakyat berpartisipasi, dan menimbang, serta mengawasi dan seimbang.

3. Pada setiap waktu dapat menghadapi banyak pokok persoalan.

4. Merupakan aksi yang tetap. Aksi merupakan darah kehidupan sebuah Organisasi.

5. Bersungguh-sungguh. Muncul untuk selalu menang.

6. Memilih taktik yang efektif.

7. Memberi gambaran tentang suatu kekuatan.

8. Pemimpin baru senantiasa muncul.

9. Pemimpin dan rakyat berfikir dan bertindak dalam pengertian keinginan sendiri, taktik kekuasaan dan lain-lain.




Strategi dan Taktik

Organisasi perlu mengetahui secara umum ke arah makna mereka dan apa yang harus mereka lakukan dari hari ke hari. Kita bisa namakan ;


Tujuan Umum atau Jangka Panjang ini “Strategi” dan Aksi hari ke hari “Taktik”.

Pada permulaan dari sebuah pengorganisasian, sebuah sasaran umum pembentukan organisasi rakyat merupakan strategi. Jenis organisasi rakyat yang berada dalam pikiran para organiser telah digambarkan sebelumnya. Sebuah organisasi ideal berawal dari organisasi kecil, dengan struktur yang jelas dan pasti (pengurus, anggaran dasar) banyak pokok-pokok persoalan, berorientasi pada aksi, demokratis, kontroversil dan lain-lain.

Taktik atau pertimbangan apa yang harus dilakukan sehari-hari haruslah dilakukan dalam rangka mencapai sasaran yang lebih besar, sebagai contoh, bisa terjadi salah satu dari permasalahan mula-mula yang ditemukan organiser dalam sebuah masyarakat menyangkut tidak adanya air minum yang baik dan murah. Ada beberapa cara yang berlainan untuk memperoleh air yang dibutuhkan. Rakyat bisa mengumpulkan uang lalu membangun sendiri pipa air minum. Mereka bisa meminta pemimpin mereka menuntut balai kota sebagai sebuah kelompok dan menuntut jaringan pipa air sebagai hak mereka.

Strategi membangun organisasi rakyat akan menuntun organiser. Jelas bahwa pilihan pertama swadaya dalam dirinya adalah baik, tetapi tidak akan mendukung pembentukan sebuah organisasi rakyat yang sifatnya penuh pertentangan. Yakni sebuah Organisasi yang berkumpul dengan kekuatan-kekuatan yang ada untuk memperoleh apa yang menjadi hak rakyat. Pilihan kedua hanyalah memperkembangkan ketergantungan rakyat yang tradisional terhadap sang pemimpin. Pilhan ketiga harus dipilih karena itulah yang paling sejalan dengan strategi.

Sesudah 6 (Enam) bulan, organiser harus sudah berhasil mengembangkan pimpinan-pimpinan setempat dan anggota, beberapa tipe organisasi informal, beberapa pokok persoalan (persoalan yang mau rakyat menggarapnya) dan sebagai tambahan sebuah gagasan yang paling baik tentang situasi nyata dari kelompok rakyat miskin. Sudah saatnya menyusun garis besar strategi yang cocok dengan linhgkungan ini, sebuah strategi yang bisa menjadi penuntun bagi hari ke hari untuk jangka waktu satu tahun,kurang lebih.


Beberapa pegangan pembentukan strategi :

Ø Persoalan pokok atau masalah. Organiser dan rakyat haruslah sependapat mengenai apa yang merupakan persoalan pokok atau paling utama di daerah itu. Mesti merupakan persoalan yang sangat berpengaruh terhadap rakyat banyak dan bisa dijadikan dasar bagi persatuan. Persoalan seperti pemilikan tanah dalam sebuah daerah gelandangan, atau mengusir pukat harimau di sebuah daerah Nelayan.

Ø Penyelesaian persoalan. Berikutnya mereka harus memikirkan jalan keluar dari persoalan pokok ini. Jika Misalnya, tanah yang jadi pokok persoalan di daerah gelandangan, mula-mula kelompok harus memutuskan Apakah mereka bertahan ditanah yang mereka duduki atau menerima tawaran pemukiman kembali di daerah yang berdekatan. Bila mereka menghendaki pemukiman kembali (yang kadang kala lebih mudah diperoleh) maka mereka harus memastikan berapa besar uang yang bakal Diperlukan untuk pengolahan tanah dan pembangunan rumah, ketentuan mengenai angsuran dan hak atas tanah, Siapa yang memenuhi syarat untuk ikut dalam pemukiman kembali dan seterusnya. Kalau mereka memutuskan untuk bertahan di atas tanah yang mereka duduki, mereka harus membuat perencanaan serupa untuk memperbaiki perumahan dan daerah mereka.

Ø Kekuatan dan kelemahan. Kelompok ini kemudian harus meninjau/mempelajari kekuatan dan kelemahan Organisasi, Siapa yang menjadi sekutu dan dinas pemerintah yang bisa menentang rencana mereka. Dengan memeriksa Keadaan Organisasi, Misalnya kelompok bisa menemukan bahwa dari 7000 keluarga yang mendiami daerah itu, hanya 3000 yang berhasil tersentuh oleh kegiatan pengorganisasian, dan dari jumlah ini Cuma 800 orang yang bisa disebut anggota aktif, yaitu mereka yang mengikuti pertemuan-pertemuan dan mengambil bagian dalam aksi. Mereka mungkin menemukan bahwa pemimpin pusat Organisasi mereka terlampau otoriter dan tidak begitu mendengarkan apa yang ingin dilakukan oleh kelompok lokal atau cabang. Mereka juga mungkin menemukan bahwa ada Organisasi yang didukung penguasa didaerah itu yang mempunyai banyak pengikut dan biasanya menentang apa yang ingin dilakukan oleh Organisasi rakyat.

Dengan mempelajari sekutu mereka, organiser dan rakyat bisa menemukan bahwa mungkin ada beberapa ahli hukum yang bisa membantu mereka dan beberapa mahasiswa dari universitas terdekat, tetapi media/ pers tidak akan memberikan pemberitaan yang menguntungkan tentang mereka. Badan pemerintah mungkin kelihatan monolitik dan menguasai penuh pengadilan dan polisi, tetapi penyidikan lebih jauh mungkin menunjukkan bahwa ada dua badan pemerintah yang tidak sepakat pada kebijakan perumahan untuk kaum miskin dan berlomba memperoleh dana pemerintah atau bank dunia yang mungkin diperoleh.

Pokok persoalan lain atau sampingan adalah kelompok harus mempelajari persoalan atau masalah lain dari daerah itu, seperti air, jalan, pengairan, sampah, program peningkatan pendapatan, kekurangan gizi. Dan berusaha melihat bagaimana penggarapan atas persoalan ini bisa dikaitkan dengan persoalan utama.

Sebuah organisasi rakyat membutuhkan pokok-pokok persoalan yang aktif sebanyak-banyaknya sebab sebuah pokok persoalan saja, biarpun cukup besar seperti tanah misalnya, tidak akan cukup membuka peluang melibatkan setiap orang dalam kegiatan secara tetap.



Latihan dan Transformasi Sosial

Seseorang belajar mengorganisir dengan sungguh-sungguh berorganisasi seperti halnya ; seseorang belajar menulis dengan menulis dan belajar berdoa dengan berdoa. Praktek nyata ini harus dipandu seorang veteran organiser. Yang berlatih mempelajari ketrampilannya dengan memperhatikan bagaimana organiser yang lebih tua bekerja dan menerima nasehat serta kritiknya. Inilah, metode latihan tertua di dunia. Bagaimana orang tua mengajari anaknya bertani, dan tukang menyampaikan ketrampilan mereka.


Organiser muda ditempatkan sebagai bagian dari sebuah tim ke sebuah daerah orang miskin dimana pengorganisasian sedang berlangsung. Ia di beri tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya dan penampilannya secara tetap diberi penilaian. Organiser yang lebih tua secara sungguh mendemonstrasikan ketrampilannya yang ingin diajarkan pada organiser muda. Sebagai contoh organiser tua akan menunjukkan bagaimana caranya berbicara dengan rakyat, bagaimana membakar mereka untuk beraksi terhadap sebuah masalah, bagaimana memimpin sebuah pertemuan atau menangani sebuah krisis.


Organiser yang lebih tua harus bertemu dengan calon setiap hari walaupun hanya sebentar saja. Ia memberikan saran dan membantu sang calon merefleksi penyelesaian-penyelesaian untuk hal-hal yang sudah terjadi. Kalau orang muda itu, misalnya tidak berhasil mengajak orang kepertemuan maka si veteran akan memintanya untuk mengulangi “pidato” yang disampaikannya kepada rakyat. Mungkin alasan yang diberikan organiser muda ini terlampau abstrak. Tugas si veteran akan menolongnya menemukan alasan yang nyata dan jelas yang bisa menarik perhatian orang miskin. Mungkin juga organiser muda telah meminta rakyat untuk melakukan hal-hal yang tidak begitu mungkin tercapai dan mereka menolak. Organiser tua akan membantu yang lebih muda untuk menyadari betapa berharganya kalau mengusahakan apa yang wajar dan masuk akal, nyata dan jelas serta sedikit banyak bisa terpenuhi dalam waktu yang dekat.


Sang veteran tidak diharapkan memberikan pokok-poko umum, tapi menguraikannya dari pengalaman-pengalaman sicalon dengan bertanya, misalnya; “Kenapa kau berfikiran bahwa rakyat tidak tertarik?” atau “kalau anda meminta mereka melakukan sesuatu yang lain, Apakah mereka akan bersedia mengerjakannya?” atau “Mengapa mereka mau melakukan yang lain pada waktu mereka tidak mau melakukan apa yang kau minta?”

Si veteran bisa mempunyai saran-saran terhadap bahasa dan pakaian orang muda itu; Apakah ia terlampau sok bisnis dan tidak cukup santai dan pribadi (kau tidak begitu saja menemui rakyat dan meminta mereka datang kesebuah pertemuan); atau Apakah ia telah memilih saat yang tepat atau tidak, atau tempat yang sesuai atau tidak, untuk mendekati rakyat; atau apakah ia cukup mendengar mereka. Seorang veteran misalnya, sering memulai hari yang baru dengan berada di samping tempat tidur calon yang muda ketika ia bangun pagi. Tak perlu kata-kata untuk menyampaikan yang ingin ia sampaikan dan katakan. Si veteran juga akan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan sang murid yang lebih akademis dan filosofis. Tujuannya adalah untuk membiasakan seorang organiser yang sedikit demi sedikit telah membangun tata aturan pengorganisasian yang didasarkan pada pengalam dan refleksi sendiri.


Di samping pelajaran sehari-hari, ada juga pertemuan mingguan di makna sebuah tim organiser muda bertukar gagasan dan pengalaman, mereka dengan cara yang lebih sistematis, dan pertemuan bulanan dimana penekanan diberikan pada pembentukan prinsip-prinsip dan membahas pokok-pokok persoalan yang lebih besar.

Ukuran utama adalah kegiatan nyata di lapangan. Penilaian berdasarkan: Berapa banyak ia telah membantu membangun organisasi; Berapa banyak orang yang berhasil dikerahkan; Betapa kuat dan mantap organisasi-organisasi tersebut; Perubahan kualitatif apa yang terjadi dalam kesadaran rakyat; Dan betapa ketatnya konfrontasi mereka dengan lawan. Keberhasilan sang calon dalam hitungan organisasi dan penyadaran menjadi ukuran betapa baiknya ia telah belajar. Katakanlah, dunia sendiri yang menilai seorang organiser, staf latihan cuma menggaris bawahi penilaian tersebut.


Pelatihan harus awas terhadap laporan-laporan palsu atau pembenaran. Selama masa-masa konsultasi, ia mempertanyakan soal-soal yang kongkrit dan menuntut jawaban yang terinci. Ini adalah cara untuk mengungkapkan laporan palsu, usaha pembenaran dan ketidakcocokan lainnya. Hal paling penting, sang pelatih harus mengamati kejadian-kejadian di daerah tersebut dan tidak asing dengan situasi yang ada. Sehingga ia bisa memberikan petunjuk yang baik.


Pada permulaan, sang calon mungkin belum bisa mengenal makna pokok persoalan atau mungkin melakukan kesalahan yang paling kasar, tetapi dengan mengambil keuntungan dari pengalamannya ia bisa belajar untuk menciptakan taktik, menganalisa dan menciptakan taktik, menganalisa dan mengorganisir menurut dirinya sendiri. Perkembangan si organiser termasuk bukan saja keahlian tehnis, tetapi juga peruilaku yang benar. Pertanyaan yang menyeluruh tentang kenapa ia mengorganisasi sangat penting bagi gerakan pembebasan. Hal inilah yang membedakan antara seorang organiser kekuatan rakyat dengan seorang teknisi biasa.


Sesudah 1 (Satu) atau 2 (Dua) bulan Kerja Nyata haruslah jadwal refleksi yang lebih mendalam disusun. Hal ini tidak saja membantu staf latihan dan yang dilatih menambah pengalaman pribadi mereka, tetapi juga memberikan latar belakang teori yang lebih padat. Sampai saat ini yang dilatih sudah cukup mempunyai pengalaman menghargai bacaan mengenai pokok ini. Refleksi yang intensif ini dipusatkan kepada: Perilaku pelaku latihan; Tentang analisa menyeluruh terhadap akar dan anatomi penindasan; Pengertian luas terhadap seluruh kerja pengorganisasian rakyat dalam memperoleh kekuatan.


Apabila konsultasi mingguan terutama berurusan dengan soal kerja pengorganisasian maka refleksi lebih terpusat pada pengembangan diri si organiser.

Masa latihan dasar haruslah sekitar 6 (Enam) bulan. Perilaku adalah penting sekali. Sebanyak mungkin latihan menanamkan semangat pengorbanan, penyerahan diri, cinta dan pengertian terhadap yang miskin, keberanian, rasa hormat terhadap semua orang dan tradisi mereka, gaya hidup sederhana, keterbukaan dan pendekatan yang tidak dogmatis terhadap kenyataan.


Pengorganisasian dan Transformasi Sosial


Bentuk pengorganisasian yang dibicarakan sejauh ini membangun organisasi rakyat untuk transformasi nasional dengan memungkinkan rakyat mempunyai gigi membuat keputusan yang merubah hidup mereka. Terkait secara padu dengan pergumulan kaum yang tertindas, tak bisa dipisahkan, dengan demikian, dimulai dengan gerakan-gerakan nasional untuk pembebasan menyeluruh dan bahkan dalam upaya-upaya setingkat Asia, mengupayakan perubahan atas ketidakadilan yang ada pada struktur sosial, ekonomi dan politik.

Organiser masyarakat mungkin punya ideologi tertentu tetapi harus berhati-hati untuk tidak menyatakannya kepada rakyat. Tugas organiser adalah membantu pembangunan organisasi rakyat yang terbuka, demokratis dan kritis sehingga kemudian bisa memilih program atau metodologi yang mereka inginkan. Adalah pendidikan untuk mempersiapkan rakyat untuk suatu kerja sama kritis dengan permasalahan nasional yang lebih besar. Disinilah terletak dasar kekuatan dari pengorganisasian.


Organisasi rakyat dimulai dengan persoalan dasar dan yang dirasakan oleh rakyat. Organiser menolong rakyat mengidentifikasi dan menganalisa pokok-pokok persoalan ini. Sering kali persoalannya kecil, air kran atau kakus misalnya. Tetapi organiser bisa membantu rakyat melihat betapa persoalan atau masalah yang kecil ini berkaitan dengan persoalan dan masalah nasional secara menyeluruh. Jadi aksi rakyat adalah langkah menuju pembebasan nasional secara menyeluruh dan tidak terbatas serta terisolir. Analisa organisasi rakyat mengenai persoalan yang dilakukan berhati-hati harus menjelaskan kepentingan kelas rakyat yang terlibat. “Kelas” disini harus diterima menurut apa yang umumnya dipahami oleh para ahli kemasyarakatan dan ilmuan sosial lainnya, dan bukan dalam pengertian Marxist.


Sesudah analisa semacam itu, organiser mendorong ke arah aksi menyelesaikan persoalan. Aksi, seperti mobilisasi, delegasi, penolakan, diam, konfrontasi – kesemuanya ini melibatkan beberapa tingkatan dari konflik – merupakan metodologi inti dari pengorganisasian kepada masyarakat.

Aksi sesuai dengan keadaan setempat serta pengalaman rakyat dan secara bebas ditentukan sendiri oleh rakyat. Aksi memungkinkan rakyat mengalami realitas struktur tidak adil yang sedang terjadi. Sesudah aksi, ada evaluasi atau refleksi oleh rakyat dan organiser untuk memastikan bahwa mereka sepenuhnya mengerti dari makna yang sudah terjadi.


Untuk mengkonsolidasikan pelajaran dari proses ini, sebuah organisasi telah lahir. Organisasi ini terbuka secara kritis kepada gerakan-gerakan nasional., sebab tipe dari analisa yang dipakai dan gaya dari aksi dan refleksi, organisasi rakyat membias demi kepentingan pergerakan nasional. Kualitas gerakan-gerakan nasional ini untuk makna organisasi rakyat cuma pendukung, termasuk keputusan untuk bebas dari dominasi asing, land-reform yang benar dan partisipasi rakyat secara demokratis. Hakikat dari ikatan di antara tipe pengorganisasian dengan gerakan yang lebih besar memunculkan perjuangan untuk pembebasan rakyat.

Tipe pengorganisasian sebagai sebuah program maka organisernya juga secara mendalam harus mawas dan tanggap terhadap kebudayaan dan agama rakyat.


Ada dimensi-dimensi dalam agama dan kebudayaan yang telah dipergunakan untuk membenarkan struktur ketidakadilan yang ada.

Ia berusaha mengidentifikasi hal-hal ini dan menggarapnya kembali sebagai hal-hal yang berpengaruh penting terhadap rakyat. Tetapi ada juga sumber-sumber yang luar biasa dalam agama dan kebudayaan membangun masyarakat yang adil dan demokratis yang diidentifikasi dan diberi penekanan oleh organisasi dalam membangun kekuatan rakyat.

Bentuk dari pengorganisasian ini bisa bergerak secara sah dalam masyarakat yang paling menindas sekalipun. Jadi merupakan alat yang berharga untuk transformasi nasional, juga fleksibel dan bisa bekerja dalam berbagai sektor masyarakat yang berbeda (dengan perhatian khusus kepada perbedaan-perbadaan, misalnya antara kaum miskin di perkotaan dan Petani) dan dengan banyak disiplin sosial lain.


Dalam analisanya, mengenai identifikasi penindasan bahwa ada yang disebut “musuh” dan ada yang bertindak menghadapinya. Betapapun, identifikasi itu tidak bermaksud untuk menghancurkan atau menyingkirkannya. Arah yang dituju ialah membebaskannya dengan cara melenyapkan kemampuan untuk menindas si miskin. Pada akhirnya ditemukan jalan untuk bisa hidup berdampingan sebagai tetangga.

Kerja pengorganisasian ini harus tanggap dan mawas terhadap beberapa godaan atau kecenderungan yang kadangkala diwaktu yang lampau menandainya. Dengan demikian harus diberi penekanan pada beberapa hal.

Ø Organiser haruslah mempunyai rasa hormat yang dalam terhadap rakyat. Organiser tidak lebih penting dari rakyat. Mereka tidak boleh angkuh. Mereka harus memilikki gaya hidup sederhana. Setiap bentuk “profesionalisme” yang memberikan petunjuk tentang keangkuhan dan kesombongan haruslah dihilangkan. Adalah jelas bahwa bukan hanya para organiser yang melakukan kesalahan-kesalahan ini.

Ø Jikalau organiser masyarakat mempunyai kemampuan untuk membantu rakyat untuk menganasila secara baik dan menunjukkan sikap hidup sederhana dan rasa hormat yang patut terhadap semua, maka akan kecil kemungkinan orang yang tertindas tidak balik menjadi penindas bilamana mereka memilikki kekuasaan.



PHMN - Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara -

0 komentar: