Sudah hampir 3 jam jarum speedometer tak beranjak dari angka 100, pantat juga hampir membatu. Hanya dua kali rehat sekedar luruskan badan dan keluarkan urine yang terus ditahan. Siang itu kami memang berkejaran dengan awan hujan.
“Selamat datang di kecamatan Sumur” tulisan itu sudah sedari tadi dinanti-nanti, terutama bagi sang joki. Pertigaan sumur. Masih 6 desa yang harus dilalui menuju desa terujung bagian barat pulau jawa, Desa Ujung Jaya.
Malam menjelang hujan, tibalah kami di Kampung Legon Pakis, yang ini kampung terujung di desa paling ujung. Masuk kampung ini dimalam hari tak akan disambut gemerlap lampu rumah-rumah warga. Gelap gulita, semoga tak segelap pengharapan hidup ratusan warganya.
Dua orang lansia langsung menyambut hangat, membuat tak enak hati. Kopi, kriping, kepiting, nasi...langsung mengepung kami. Perut sudah ditenangkan, saatnya berbincang-bincang, puaskan rasa penasaran tentang panen padi, tentang gosip pak lurah mau kawin yang keenam kali, juga tentang perjuangan atas hidup layak, atas kampung halaman.
Awalnya hanya berempat; saya, seorang kawan dan dua lansia yang sesepuh desa. Tak selang lama, jemaah kami malam itu terus bertambah. Obrolan pun semakin ramai. Ada yang berkesan malam itu. Cerita tentang Pandawa setelah diusir Kurawa membuka hutan angker bernama Alas Mertani, hutan dengan bermacam dedemit itu menjadi sebuah negara nan megah, Amartapura. Mirip sekali, disini terkenal juga gerombolan dedemitnya, dari yang suka ngerasukin sampe yang suka nangkepin dan gusurin sawah warga, bedanya dedemit disini pake seragam dan bawa senjata...Ingat kembali ke cerita Alas Mertani, semoga perjuangan pak tani mewujudkan hidup yang bersanding dengan hutan dapat wujud segera . (02/06/2010)
PHMN - Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara -



0 komentar:
Poskan Komentar