B(C)erita Cuaca dari Ujung Jawa
Ini hari, hari dinanti, perkakas sudah siap sedari tadi. Kalender musim menjadi panduan kami, agar tak meleset tentukan agenda kerja, katanya harus begitu jika hasil baik ingin dirasa.
2 jam sudah kami melaju, tentu perut harus diurus dahulu. Siang jelang sore, kami sampai tepat waktu, sesuai target-lah begitu. Pasar Sawah, Cibaliung, warung makan Ceu Neneng tepatnya. Saatnya meredam unjuk rasa cacing diperut yang sudah bosan hanya diusap tangan. Tidak lama kami jeda, sekedar makan dan laporan pada Yang Esa.
Roda dua kembali dipacu, mengejar tempat yang dituju. Tak lama selang waktu, tetesan air dari langit mulai dirasa. Awalnya dihiraukan saja, hujan semakin menderas kamipun bergegas berkemas jas dari tas. Jas tipis murahan dari plastic, kalau tidak salah merk Cina pula. Guyuran hujan bertambah besar, pikiran mulai bimbang antara berteduh dengan tetap mengayuh, karena jarak tempuh masihlah jauh. Pilihan ke dua kami ambil, karena tak mau terjebak gelap sepanjang hutan dan pantai.
Cikawung Girang, Ujung Jaya, Pukul 18.40 ketika kami ketuk pintu rumah Ketua RT kampung ini. Dengan muka lusuh dan kuyup, tergopoh menyalami puluhan orang yang sudah melingkar dan mungkin bosan menunggu dua pemuda beken ini. Senyum sapa kami dibalas suguhan kopi panas. Cuci mulut baru cuci muka…
Usai bergantian dijamban, episode makan mulai dibuka. Duduk bersila tanpa do’a, kami lahap semua menu yang ada.
Obrolan pembuka tentu saja kisah tentang perjalanan yang kami lalui seharian tadi. Daftar nama dan kabar kawan-kawan yang tidak ikut serta mulai keluar dari mulut tua-muda yang melingkar bersila. Episode inti kami buka, setelah ucap salam dan tuturan inti sari agenda pertemuan, sejumlah kertas buram dan alat tulis mulai dipasang. Jadwal dan perencanaan panen, perluasan anggota, sensus nectar dan dorsata…itulah kira-kira agenda kita. Dimulai dari agenda pertama. Obrolan-pun riuh tentang musim dan cuaca, ramainya tak kalah dengan gaya rapat wakil rakyat, hanya saja kami tak punya budaya tengkar saling pukul sikut kiri-kanan, tak ada juga yang mendengkur.
Sudah dua musim ini cuaca memang tak bisa disangka, hujan dan kemarau sudah tak beraturan. “Biasanya Jumadil Akhir sudah kemarau sampai akhir Ramadhan jelang Syawal baru kembali hujan” ucap Jarsani seksi pencatatan kelompok madu hutan. “Sekarang pohon Salam dihutan, juga Kopo di pantai sudah berbunga, karena hujan mungkin odeng tak bisa terbang hisap sarinya…” sambut Rohman yang ketua RT juga anggota kelompok madu. “harus dikasih jas hujan odeng-nya, hahaha…” timpah seseorang yang mengundang tawa. Tak hanya soal madu, padi di sawah pun turut jadi korban akibat hujan yang terus datang. Hama walang dan bendur mulai ramai menjalar. Menurut Carik Udin, hama-hama tersebut membuat bulir padi menjadi hampa. Hujan yang tak beraturan ini menyebabkan batang padi terendam, dapat berakibat membusuk, istilah disini “Lanyur” tutur Abah Suhaya. “Tak cuma sawah yang kena masalah, Si Misna tak bisa jaring ikan ditambah bagannya hampir karam” cerita Kang Jarna.
Malam itu, cerita tentang cuaca membuat kami semua mengerutkan kepala. Resah kami jauh lebih dari pada mereka yang berdebat di gedung bertingkat. Rapat tentang perubahan cuaca di Bali dan Copenhagen beberapa waktu lalu hanya berbuah utang baru, yang harus kami tanggung hingga anak cucu…
PHMN - Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara -



0 komentar:
Poskan Komentar