Senin, 14 Februari 2011

seminar dan konsultasi publik



Meningkatnya degradasi hutan dan dampaknya yang semakin nyata dirasakan oleh seluruh umat manusia saat ini merupakan hal yang mesti dijawab dengan segera. Oleh karena itu kebijakan pengelolaan hutan oleh seluruh pemangku kepentingan, tentu saja harus selaras dalam konsep dan pratek nyata.

Kami yakin bahwa aktor utama dalam konservasi hutan yang efektif dan teruji sampai saat ini adalah masyarakat lokal yang hidup dan menggantungkan hidupnya di hutan. Disisi lain, lemahnya perlindungan dan perhatian terhadap masyarakat lokal tersebut sangat mengancam keberadaan hutan dan masyarakat itu sendiri. Korelasi nyata antara kondisi hutan dan masyarakat sekitarnya, menjadi acuan bagi kami dalam melakukan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Melalui pengelolaan madu hutan secara lestari dikawasan TNUK, kami mencoba menghubungkan antara upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan upaya konservasi dan antipasi perubahan iklim yang menjadi fenomena saat ini.

Hingga saat ini pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) perkembangannya masih lambat jika dibandingkan dengan Hasil Hutan Kayu (HHK). Madu hutan sebagai salah satu dari jenis HHBK dapat menjadi alat ukur atas kondisi hutan / ekosistem suatu wilayah, hal ini dikarenakan lebah hutan (Apis Dorsata;dlm bhs lokal Odeng) hanya dapat berkembang dalam ekosistem yang belum terdegradasi.

Kelompok Tani Madu Hutan Ujung Kulon (KTMHUK) terbentuk pada tahun 2009 dan diterima sebagai anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) pada pertemuan tahunan V di Luwu Utara. Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara (PHMN) sebagai lembaga pendamping, mulai memperkenalkan proses panen lestari dan pasca panen higienis pada 17-19 Juli 2009 bersama JMHI dan perwakilan dari Dian Niaga, sekaligus sebagai proses verifikasi keanggotaan JMHI. Setelah dilakukan verifikasi, dilanjutkan kontrak jual-beli madu hutan oleh PHMN dan KTMHUK dengan PD. Dian Niaga Jakarta sebanyak 1 ton madu hutan terhitung dari tanggal 02 September 2009.

Menyadari masih lemahnya kapasitas dari program pemanfaatan madu hutan Ujung Kulon. Maka, selama periode 12 bulan ini PHMN melaksanakan program upaya peningkatan kapasitas pendampingannya. Program ini terlaksana atas dukungan dari JMHI dan Japan Enviromental Education Forum (JEEF). Pada dasarnya program yang dilaksanakan bertujuan untuk mendorong harmonisasi antara usaha pelestarian ekosistem hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan usaha peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan melalui pemanfaatan madu hutan secara lestari.

Seminar dan Konsultasi Publik yang akan diselenggarakan ini dimaksudkan untuk menyampaikan beberapa hal yang telah dilakukan selama periode 12 bulan ini.


PHMN - Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara -

0 komentar:

Program Kerja

1. Pengorganisasian masyarakat pedesaan dan pendidikan Community Organizer
2. Pengembangan ekonomi kerakyatan
3. Konservasi dan pemanfaatan sumber daya hutan berkelanjutan
4. Pendampingan konflik Agraria
5. Pendidikan Politik, Hukum, Hak Azasi Manusia dan kesetaraan gender

Vision

Foto Saya
Pandeglang, Propinsi Banten, Indonesia
"Membangun emansipasi masyarakat untuk terciptanya tatanan masyarakat yang mandiri secara ekonomi, berkedaulatan secara politik dan bermartabat dalam kebudayaan".

Kontak Kami

Sekretariat : Jl. Raya Rangkas Bitung, Kp. Tenjolaya Hilir RT:01/08 NO: 26 Kel. Kabayan Kec. Pandeglang, 42212 Pandeglang – Banten

Tlp : ( 0253 ) 204439

email : hanjuang.mahardika@gmail.com

Support By :

Support By :
JMHI

Japan Enviromental Education Forum